Masyarakat Swiss mengikuti pemungutan suara pada Minggu (13/6/2026) untuk menentukan kebijakan pembatasan jumlah penduduk maksimal 10 juta jiwa. Langkah ini memicu perdebatan besar karena berpotensi mengubah lanskap ekonomi dan komposisi demografi negara secara signifikan.
Pengusulan pembatasan populasi ini diprakarsai oleh partai sayap kanan, Partai Rakyat Swiss. Mereka memprediksi kebijakan ini mampu mengurai kemacetan lalu lintas, menekan tingginya biaya perumahan, serta menjaga tradisi bahasa dan akar agraria Swiss.
Sebaliknya, dewan pemerintahan Swiss yang beranggotakan tujuh orang secara resmi menentang langkah tersebut. Lembaga konsultan Demografik yang ditunjuk pemerintah memproyeksikan dampak buruk jika populasi dipaksa turun secara drastis setelah menyentuh angka 10 juta dalam 15 tahun ke depan.
Hasil studi Demografik menunjukkan kebijakan ini akan menghentikan mayoritas imigrasi yang selama ini menjadi penggerak utama pertumbuhan populasi Swiss. Pembatasan tersebut diperkirakan bakal menjegal masuknya 1,2 million orang Eropa ke Swiss hingga tahun 2075.
Selain itu, pembatasan ketat dinilai akan membuat populasi yang menua menjadi semakin tua karena rendahnya angka kelahiran warga lokal. Berhentinya migrasi pekerja produktif berisiko membebani program kesejahteraan sosial dan memaksa perubahan menyakitkan pada sistem pensiun.
Sektor-sektor kritis seperti farmasi, teknologi informasi, dan layanan kesehatan diprediksi akan mengalami kekurangan tenaga kerja ahli yang parah. Dampak ini dikhawatirkan menguras bakat-bakat internasional dan menumpulkan keunggulan inovasi ekonomi Swiss.
"If they keep out the well-trained people, then they have a problem filling certain positions," ujar Stefanie Bailer, Ilmuwan Politik di University of Basel.
Bailer menambahkan bahwa kehadiran para dokter asal Jerman dan tenaga ahli lainnya sangat krusial bagi Swiss. Ketiadaan para pekerja migran ini dinilai akan menimbulkan masalah masif bagi pemenuhan posisi pekerjaan di sana.
Kekosongan pekerja ini juga diproyeksikan menyulitkan gelombang pensiunan Swiss yang membutuhkan perawatan medis di masa depan. Berkurangnya jumlah tenaga kerja produktif akan membuat situasi pemenuhan kebutuhan medis menjadi semakin sulit.
"It will make a situation that was already critical even more critical," kata Manuel Buchmann, Penulis Utama Studi Demografik.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·