Siang itu, matahari Pekanbaru seolah berada tepat satu jengkal di atas kepala. Di dalam sebuah kantor di bilangan Rumbai, suhu udara yang dipompa mesin AC tampak beradu sengit dengan hawa panas yang menyelinap dari balik jendela. Ruangan dipenuhi simfoni harian: deru tut keyboard laptop, rintihan printer yang sedang mencetak laporan, dan gelak tawa renyah dari sudut belakang ruangan.
“Ndak ada do, Bang. Belum jadi barang tu,” ujar seorang rekan kerja di meja sebelah. Sambil merapikan barang-barang yang hendak dipindahkan ke gudang, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Sederhana, tapi telinga saya yang sudah empat tahun menghuni kota ini menangkap sesuatu yang lebih dalam. Kalimat itu adalah sebuah penolakan—sebuah kabar buruk bahwa pekerjaan belum selesai. Namun, kenapa rasanya tidak menyakitkan? Rahasianya ada pada dua huruf yang menutup kalimat itu: “Do”.
Melodi di Balik Bantahan
Bagi pendatang, partikel “do” (atau secara fonetik ditulis doh) awalnya terdengar seperti gumaman tanpa makna. Namun, setelah menetap selama 1.460 hari di Bumi Bertuah, saya sudah terbiasa memahami ritmenya. Tanpa “do”, percakapan di kantor atau kedai kopi akan terasa hambar, kaku, dan mungkin… sedikit kasar.
Secara akademis, fenomena ini bukan sekadar kebiasaan lidah. Merujuk pada penelitian Zulkifli (2019) dalam tesisnya di Universitas Pendidikan Indonesia, partikel ini adalah sebuah emphatic marker atau penanda penegas. Menariknya, “do” punya kesetiaan yang luar biasa; ia hampir selalu muncul setelah kata-kata negatif seperti tak, ndak, dan bukan.
Ia adalah hukum rimba bahasa di Pekanbaru. Kita tidak akan pernah mendengar seseorang berkata, “Aku suka do,” karena itu menyalahi kodrat “do” yang bertugas menjaga sisi negatif. Namun, justru di situlah letak keajaibannya. “Do” hadir untuk melembutkan penolakan. Ia mengubah kata “Tidak” yang tajam menjadi sebuah penjelasan yang lebih manusiawi dan akrab.
“Social Bonding” di Balik Meja Kantor
Zulkifli menyebutkan bahwa partikel ini adalah penanda kedekatan sosial (social bonding). Di Pekanbaru, jika seseorang sudah berani menyisipkan “do” saat berbicara denganmu, selamat! Itu artinya pagar formalitas telah runtuh. Kamu bukan lagi dianggap “orang luar” yang harus disapa dengan bahasa baku yang dingin.
Saya ingat tahun pertama saya di sini, jawaban yang saya terima mungkin hanya “Belum ada.” Dingin dan berjarak. Namun kini di tahun keempat, jawaban itu berevolusi menjadi “Belum ada do, Bang.” Ada rasa saling percaya yang terselip di sana. Penolakan bukan lagi sebuah konfrontasi, melainkan sebuah kejujuran.
Menjadi Lokal
Tinggal di Pekanbaru mengajarkan saya bahwa identitas sebuah kota tidak hanya terletak pada monumen atau makanannya, tetapi pada bagaimana warganya berkomunikasi. Sayangnya, kekayaan seperti partikel “do” ini sering dianggap sebagai bahasa pasar yang sepele, padahal ia adalah warisan linguistik yang hidup.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekadar menumpang lewat. Pekanbaru telah mengubah cara saya memandang sebuah penolakan.
Kini, ketika seseorang bertanya apakah saya menyesal pindah ke kota yang angek bedengkang ini, saya tidak perlu lagi menyusun kalimat panjang yang puitis. Saya cukup tersenyum, menenggak es teh manis di tengah gerah yang menyengat, dan menjawab dengan mantap: “Tak ada do!”
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·