Tambang-Perkebunan Berpotensi Kembangkan Daerah Transmigrasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

MENTERI Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara melihat tambang hingga perkebunan berpotensi mengembangkan kawasan transmigrasi. Potensi tersebut berasal dari hasil penelitian 2 ribu peneliti yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot 2025 di 154 kawasan transmigrasi.

“Kalau di Mamuju itu ada logam tanah jarang. Kemudian juga bioetanol untuk misalkan sawit, itu juga perkebunan dan sebagainya termasuk tebu. Itu juga kami potensikan,” katanya dalam konferensi pers di kantornya, Senin, 4 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Iftitah mengatakan semua potensi hasil aktivitas tambang dan perkebunan masuk ke dalam Hak Pengelolaan Lahan (HPL) kawasan transmigrasi. Sehingga Kementerian Transmigrasi pun fokus menciptakan pertumbuhan ekonomi baru untuk transmigran supaya tetap memiliki pekerjaan dan produktif.

“Bukan hanya sekadar dipindahkan kemudian setelah itu diserahkan kepada masyarakat, tidak seperti itu,” tuturnya.

Pemanfaatan HPL salah satunya untuk proyek 13 sumur minyak di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Cadangan minyak bumi di dalamnya diperkirakan 0,96 juta barel atau hampir 1 juta barel dan 11,64 miliar kaki kubik gas alam. Proyek itu pun rencananya akan dimulai pada Juni 2026.

Iftitah mengatakan kawasan transmigrasi memiliki potensi ekonomi selain pertanian. Kementerian Transmigrasi pun akan menciptakan berbagai potensi dari 3,2 juta hektare HPL di kawasan transmigrasi yang dimiliki negara.

“Transmigrasi itu tidak selalu identik dengan pangan atau hanya dengan pertanian,” ujarnya.

Untuk menggali potensi lebih lanjut, Kementerian Transmigrasi kembali membuka pendaftaran Tim Ekspedisi Patriot pada tahun ini. Sebanyak 1.458 orang akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi yang difokuskan untuk studi kelayakan sebagai tindak lanjut tahun sebelumnya.