Tari Obah Gerabah dan Cerita Para Pengrajin yang Jarang Dapat Panggung

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Tari Obah Gerabah dan Cerita Para Pengrajin yang Jarang Dapat Panggung


Suara denting gerabah memenuhi panggung Galeri Indonesia Kaya ketika para penari mulai bergerak membawa kendi, periuk, dan berbagai alat tanah liat lainnya. Di tangan Sanggar Seni Lemah Urip, gerabah yang selama ini identik dengan dapur dan kerajinan tradisional berubah menjadi bagian dari pertunjukan tari yang hidup dan penuh energi lewat karya Tari Obah Gerabah.

Pertunjukan ini hadir sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia 2026 yang digelar sepanjang Mei oleh Bakti Budaya Djarum Foundation melalui Galeri Indonesia Kaya. Setelah sebelumnya menghadirkan berbagai pertunjukan tari dari komunitas seni di Indonesia, kali ini panggung diisi karya yang mengangkat kehidupan para pengrajin gerabah di kawasan Borobudur.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan perayaan Hari Tari Sedunia memang sengaja dibuat tidak berhenti hanya dalam satu hari. Menurutnya, rangkaian pertunjukan sepanjang Mei menjadi ruang apresiasi bagi komunitas seni yang terus menjaga tradisi di tengah masyarakat.

“Perayaan Hari Tari Sedunia tidak berhenti pada satu momentum saja. Melalui rangkaian pertunjukan sepanjang Mei di Galeri Indonesia Kaya, kami ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi ragam tari dan komunitas seni yang terus menjaga tradisi di tengah masyarakat,” ujar Renitasari.

Cerita Kehidupan Pengrajin Gerabah di Atas Panggung

Tari Obah Gerabah bukan sekadar pertunjukan tari tradisional. Karya berdurasi sekitar satu jam ini membawa penonton masuk ke kehidupan masyarakat pengrajin gerabah yang sehari-harinya hidup dari tanah liat.

Lewat gerakan tari, musik, dan permainan properti, penonton diajak melihat proses panjang di balik sebuah gerabah. Mulai dari mengolah tanah, membentuk gerabah dengan tangan, hingga proses pembakaran yang dilakukan secara turun-temurun. Semua dikemas dalam pertunjukan yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di kawasan Borobudur, gerabah memang bukan hanya produk kerajinan. Bagi banyak keluarga, gerabah menjadi sumber penghidupan utama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai itulah yang coba diangkat Sanggar Seni Lemah Urip melalui karya ini.

Koreografer pertunjukan, Derra Kartika, mengatakan gerabah dipilih bukan hanya karena bentuk visualnya menarik di atas panggung, tetapi karena memiliki cerita besar tentang kehidupan masyarakat.

“Melalui Tari Obah Gerabah, kami ingin menunjukkan bahwa gerabah bukan sekadar benda kerajinan, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang menjadi sumber penghidupan keluarga secara turun-temurun,” ujar Derra.

Ketika Gerabah Menjadi Alat Musik

Salah satu bagian paling menarik dari pertunjukan ini adalah eksplorasi bunyi yang dihasilkan dari gerabah. Berbagai alat gerabah dipukul, diketuk, hingga dimainkan seperti instrumen musik untuk menciptakan ritme yang mengiringi para penari.

Sebanyak 13 penampil, terdiri dari penari anak-anak, penari dewasa, dan pemusik, tampil bersama membangun suasana pertunjukan yang dinamis. Tidak hanya menyaksikan, penonton juga diajak ikut memainkan alat musik gerabah dan merasakan langsung energi pertunjukan.

Interaksi itu membuat Tari Obah Gerabah terasa lebih dekat dan hangat. Penonton tidak hanya melihat pertunjukan seni, tetapi ikut memahami bagaimana gerabah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Borobudur.

Sanggar yang Menjaga Tradisi Tetap Hidup

Di balik pertunjukan ini, Sanggar Seni Lemah Urip memiliki misi yang lebih besar dari sekadar membuat karya tari. Berbasis di Desa Karanganyar, Borobudur, sanggar ini aktif memberikan pendidikan seni gratis bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

Mereka membuka Sekolah Gerabah, Kelas Tari Gerabah, dan Kelas Musik Gamelan sebagai ruang belajar sekaligus ruang pelestarian budaya lokal. Pendiri Sanggar Seni Lemah Urip, Muhammad Jafar atau Jepe, mengatakan kesenian bagi masyarakat di sana tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

“Gerabah, tari, dan gamelan bukan hanya kesenian bagi kami, tetapi bagian dari identitas dan keseharian warga yang perlu terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Jepe.

Melalui Tari Obah Gerabah, Sanggar Seni Lemah Urip menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus tampil kaku dan jauh dari generasi muda. Dari denting gerabah di atas panggung, publik diajak melihat bahwa budaya lokal masih hidup, berkembang, dan terus menemukan cara baru untuk bercerita kepada zaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News