PRESIDEN Cina Xi Jinping menekankan pentingnya membangun hubungan Cina-Amerika Serikat yang stabil dan menghindari “Jebakan Thucydides.” Hal ini diungkapkan Xi saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada Kamis 14 Mei 2026.
"Mampukah Cina dan Amerika Serikat lolos dari 'Jebakan Thucydides' dan menciptakan paradigma baru hubungan negara-negara besar? Dapatkah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi dunia? kata Presiden Xi saat bertemu dengan Presiden Trump di Balai Besar Rakyat seperti dilansir CNBC dan dikutip The Hill.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Presiden Cina itu telah menggunakan istilah tersebut sejak 2014, lapor Bloomberg.
"Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi publik. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan zaman yang kita sebagai pemimpin negara-negara besar perlu jawab bersama," kata Xi.
Konsep "Perangkap Thucydides," yang dipopulerkan pada awal tahun 2010-an oleh ilmuwan politik Universitas Harvard, Graham Allison, meminjam nama sejarawan Athena kuno, Thucydides. Konsep Allison menyatakan bahwa ancaman perang ada ketika ketegangan meningkat antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan yang berkuasa sebelum akhirnya menyebabkan konflik.
Allison mengarahkan konsep ini pada hubungan antara Cina dan AS dalam bukunya sendiri, “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?” Dia menyajikan 16 kasus di mana dua kekuatan besar itu menghadapi “jebakan” tersebut; 12 dari persaingan tersebut berakhir dengan perang, empat lainnya menghindari kekerasan sama sekali.
Thucydides sendiri adalah sejarawan Yunani kuno dan menulis buku "Sejarah Perang Peloponnesia" yang menceritakan perang antara Athena dan Sparta pada abad ke-5 SM. Karyanya itu disebut sebagai analisis politik dan moral pertama soal perang antarbangsa sehingga ia dianggap sebagai bapak sejarah ilmiah dan realisme politik.
Ia pun mengaku siap bekerja sama dengan Trump untuk menentukan arah dan mengarahkan kapal raksasa hubungan Cina-AS. Xi berharap hal ini menjadikan tahun 2026 sebagai tahun bersejarah dan penting yang membuka babak baru dalam hubungan kedua negara.
Hubungan Stabil dan Berkelanjutan
Presiden Xi juga menekankan bahwa Cina berkomitmen dalam pengembangan hubungan Cina-AS yang stabil, baik, dan berkelanjutan.
"Saya sepakat dengan Presiden Trump tentang visi baru untuk membangun hubungan Cina-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis. Ini akan memberikan panduan strategis untuk hubungan Cina-AS selama tiga tahun ke depan dan seterusnya, dan akan diterima dengan baik oleh rakyat kedua negara dan komunitas internasional," ujar Xi seperti dilansir Antara.
"Stabilitas strategis yang konstruktif", menurut Xi, berarti stabilitas positif dengan kerja sama sebagai landasan, stabilitas yang sehat dengan persaingan dalam batas yang wajar, stabilitas konstan dengan perbedaan yang dapat dikelola, dan stabilitas yang langgeng dengan perdamaian yang dapat diharapkan.
Presiden Xi mencatat bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan Cina-AS saling menguntungkan dan bersifat saling menguntungkan.
"Jika terdapat perbedaan pendapat dan gesekan, konsultasi yang setara adalah satu-satunya pilihan yang tepat. Kemarin, tim ekonomi dan perdagangan kita menghasilkan hasil yang umumnya seimbang dan positif. Ini adalah kabar baik bagi rakyat kedua negara dan dunia," tutur Xi.
Xi menyebut kedua negara harus bersama-sama mempertahankan momentum baik yang telah diupayakan.
"Cina hanya akan membuka pintunya lebih lebar. Bisnis-bisnis AS sangat terlibat dalam reformasi dan keterbukaan Cina. Cina menyambut baik kerja sama yang lebih saling menguntungkan dari AS," tegas Xi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·