Tenaga Surya Menjadi Sumber Energi Utama Dunia pada 2032

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Lonjakan kebutuhan listrik global secara masif diprediksi bakal menempatkan tenaga surya sebagai pilar utama pasokan energi dunia pada awal dekade mendatang. Kesimpulan tersebut tertuang dalam laporan tahunan Prospek Energi Baru yang dirilis oleh BloombergNEF pada Selasa, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Para peneliti menjelaskan bahwa akselerasi elektrifikasi dipicu oleh ekspansi pusat data, pertumbuhan populasi, kenaikan pendapatan masyarakat, hingga adopsi kendaraan listrik. Berbagai faktor ini mendorong urgensi transisi ke sistem energi bersih yang lebih cepat.

"Sejauh dekade ini, dunia telah mengalami tiga guncangan besar pada sistem energi: pandemi Covid-19, perang di Ukraina, dan, yang terbaru, konflik di Teluk Persia," tulis para analis.

"Guncangan pasar energi yang beruntun ini dapat menjadi berkah bagi transisi energi karena beberapa negara berupaya melepaskan diri dari bahan bakar fosil impor dan memperkuat keamanan energinya."

Proyeksi masa depan dalam analisis ini bersandar pada dua jalur utama, yakni Skenario Transisi Ekonomi (ETS) berbasis kekuatan pasar, serta Skenario Net-Zero (NZS) yang digerakkan kebijakan iklim Perjanjian Paris.

Melalui skenario ETS, bauran energi global akan terus didominasi oleh penguatan kapasitas tenaga surya dan angin. Tenaga surya diproyeksikan menggeser posisi batu bara sebagai kontributor terbesar pada 2032, disusul tenaga angin dua tahun setelahnya.

Ekspansi energi terbarukan ini berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas penyimpanan baterai dunia. Kapasitas baterai global diperkirakan melonjak tajam dari 220 gigawatt pada 2025 menjadi 2.000 gigawatt pada 2035.

Tantangan Emisi dan Target Pemanasan Global

Meskipun China diproyeksikan merajai sektor penyimpanan baterai, permintaan besar juga akan tumbuh di India dan Eropa mulai dekade 2030-an. Namun, tren emisi saat ini mengindikasikan deviasi dari target ambisius pembatasan suhu global di bawah 1,5°C.

Skenario ETS memprediksi suhu bumi memanas hingga 2,4°C pada 2050 karena emisi di India, Asia Tenggara, dan Amerika Latin masih menanjak. Sebaliknya, China sebagai produsen emisi terbesar diperkirakan melewati titik puncak emisi setelah 2025.

Bahkan dengan pencapaian emisi nol bersih pada 2050, pemanasan global pada akhir abad ini diproyeksikan menembus angka 1,8°C. Angka ini mengalami kenaikan dibanding estimasi BloombergNEF pada tahun lalu yang berada di level 1,75°C.