Tiga Supertanker Minyak Melintasi Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata AS&Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Aktivitas pengiriman minyak mentah global menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan setelah sempat terhenti akibat konflik geopolitik. Pada Sabtu (11/4/2026), tiga kapal tanker raksasa atau supertanker bermuatan minyak mentah dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz.

Pergerakan ini terjadi hanya beberapa jam setelah satu kapal tanker asal Yunani juga melewati jalur krusial tersebut. Dilansir dari Money, peningkatan lalu lintas pengiriman minyak ini terjadi beberapa hari setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun sifatnya masih rapuh.

Dua dari tiga supertanker yang melintas berasal dari China, mengangkut minyak mentah dari kawasan Teluk Persia. Perlintasan tiga kapal ini menjadi volume pengiriman minyak keluar Selat Hormuz tertinggi sejak konflik yang meletus enam pekan lalu, yang sempat melumpuhkan jalur tersebut.

Meskipun Selat Hormuz kini dibuka kembali, menariknya, tidak ada satu pun dari kapal-kapal tersebut yang membawa minyak dari Iran atau memiliki keterkaitan langsung dengan negara itu. Pembukaan kembali jalur ini sangat penting bagi perdagangan minyak global yang sebelumnya terhenti.

Penutupan Selat Hormuz telah menghilangkan jutaan barel pasokan dari pasar dunia, memperketat ketersediaan minyak fisik di berbagai wilayah. Ke depan, AS dan Iran dijadwalkan akan menggelar pembicaraan damai di Islamabad.

Dua supertanker China, Cospearl Lake dan He Rong Hai, adalah kapal pertama dari negara Asia yang terpantau kembali mengangkut minyak keluar Teluk Persia sejak konflik. Hal ini menjadi kabar positif bagi Beijing, namun juga mencerminkan dampak tekanan pasokan akibat konflik terhadap China.

Meskipun ada peningkatan, volume pengiriman saat ini masih jauh di bawah kondisi normal pada situasi damai. Ketiga kapal tersebut memiliki kapasitas total sekitar 6 juta barel minyak mentah.

Sebagai perbandingan, Iran, yang menjadi satu-satunya negara yang masih aktif mengirim minyak melalui jalur tersebut, mencatatkan ekspor sekitar 1,7 juta barel per hari pada bulan lalu. Angka ini menunjukkan bahwa volume pengiriman saat ini baru sekitar setengah dari tingkat normal, dan itu pun hanya terjadi dalam satu hari.

Selain Cospearl Lake dan He Rong Hai, kapal asal Yunani bernama Serifos juga melintas. Ada pula tanker China lainnya, Yuan Hua Hu, yang berada di dekat dua kapal tersebut namun tidak mengirimkan sinyal pelacakan pada hari yang sama.

Data pelacakan menunjukkan bahwa Serifos dan He Rong Hai memuat minyak di Arab Saudi, sementara Cospearl Lake mengambil muatan dari Irak. Kapal asal Yunani itu dilaporkan mengarah ke Selat Malaka, Malaysia, jalur transit penting menuju berbagai wilayah di Asia.

Ketiga kapal tersebut menggunakan rute utara saat melintasi Selat Hormuz, sesuai ketentuan yang diberlakukan Iran. Rute ini melewati perairan Iran, termasuk di sekitar Pulau Qeshm dan Pulau Larak, serta menjauhi jalur pelayaran tradisional di sisi selatan selat.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa kapal-kapal diizinkan melintas, namun harus mendapatkan izin terlebih dahulu. Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia, di mana seperlima pasokan minyak global dan volume serupa untuk gas alam cair (LNG) biasanya melewati jalur ini.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, hampir seluruh aktivitas pelayaran di kawasan tersebut sempat terhenti dalam waktu singkat. Meskipun data pelacakan kapal digital dapat dimanipulasi, pergerakan ketiga kapal ini dinilai konsisten dan mencerminkan aktivitas pelayaran yang nyata.