Tim Dokter Ungkap Kondisi Memprihatinkan Aktivis KontraS Andrie Yunus

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Dua dokter spesialis membeberkan kondisi memprihatinkan aktivis KontraS Andrie Yunus yang mengalami kerusakan mata parah akibat disiram air keras oleh empat prajurit TNI dalam persidangan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Rabu (20/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Oditur militer mendakwa empat prajurit TNI melakukan aksi penyiraman tersebut karena merasa kesal dan menilai perbuatan Andrie telah melecehkan serta menginjak-injak institusi TNI saat melakukan interupsi dalam rapat pembahasan revisi UU TNI di DPR pada 16 Maret 2025.

"Dengan kejadian tersebut, para terdakwa menilai saudara Andrie Yunus telah melecehkan institusi TNI, bahkan menginjak-injak institusi TNI," ujar oditur saat membacakan surat dakwaan.

Oditur militer kemudian menghadirkan dokter spesialis bedah plastik Parintosa Atmodiwirjo dan dokter spesialis mata Faraby Martha selaku tim medis dari RSCM yang merawat korban sejak 13 Maret 2026.

"Dokter apa aja?" tanya ketua majelis hakim Kolonel Chk Fredy Ferdian Isnartanto.

"Bedah kulit dan mata," jawab oditur.

Ketua tim dokter, Parintosa Atmodiwirjo, menjelaskan bahwa Andrie Yunus saat ini sudah menjalani rawat jalan sejak 16 April 2026 setelah melewati fase perawatan panjang akibat luka bakar yang luas.

"Saudara AY sudah rawat jalan. Jadi sudah rawat jalan, saya lupa, mesti saya buka kembali catatannya. Tapi yang bersangkutan, ketika memang ada fase panjang dirawat karena lukanya masih luas, kemudian sampai lukanya sudah tidak begitu luas, itu kemudian kita bisakan rawat jalan. Jadi yang terakhir adalah yang bersangkutan datang untuk tata laksana selanjutnya, untuk operasi dan sebagainya," jawab Parintosa.

Parintosa juga mengonfirmasi tanggal pastinya kembali saat menjawab pertanyaan dari oditur mengenai status penanganan korban.

"Keluarnya tanggal 16 April," ujar Parintosa.

"16 April rawat jalan?" tanya oditur.

"Rawat jalan," ujar Parintosa.

Meskipun sudah rawat jalan, tim dokter menyebut kondisi Andrie Yunus masih sangat rentan terhadap infeksi luar sehingga disarankan untuk menghindari aktivitas di tempat ramai seperti persidangan.

"Jadi saat ini Pak Andrie Yunus masih dalam penanganan kami, dengan pemberian obat-obatan di matanya, obat tetes. Untuk melakukan suatu aktivitas ya, seperti persidangan ini, memang tadi seperti dijelaskan dokter Osa, kami yang paling kami takutkan adalah risiko infeksi apabila pasien ini menjalani suatu aktivitas ya terutama yang di, aktivitas di wilayah hukum yang banyak orang hadir," jawab Faraby.

Faraby Martha menambahkan bahwa korban masih harus terus mengonsumsi obat-obatan antibiotik guna mencegah paparan infeksi pada matanya.

"Karena matanya sedang dalam kondisi yang rentan, yang rentan untuk terserang infeksi dari luar. Sedangkan pasien sendiri masih memakai obat-obatan antibiotik untuk sebagai pencegahan infeksi itu, tapi tentu saja keadaan-keadaan atau situasi yang memicu infeksi itu harus dihindari," ujar Faraby.

Parintosa kemudian memperjelas bahwa luka bakar yang terbuka membuat pasien harus menjalani tahapan tandur kulit dan diwajibkan melakukan bed rest total tanpa banyak bergerak.

"Jadi yang pertama betul, jadi luka bakar itu terbuka kulitnya, sehingga rentan terhadap infeksi. Tetapi kemudian yang kedua adalah Saudara Andrie Yunus ini dalam tatalas kami untuk tandur kulit. Tandur kulit itu harusnya tidak bisa bergerak. Jadi, kalau dia bergerak seperti menanam rumput, ketika rumputnya digeser, lepas kembali akarnya," kata Parintosa.

Parintosa menegaskan bahwa proses pemulihan tandur kulit tersebut membutuhkan waktu pemantauan yang cukup ketat agar posisinya tidak bergeser.

"Jadi harus benar-benar bed rest dan dirawat dengan baik. Jadi ada dua hal risiko infeksi dan kedua ketika sedang sudah tahapan tandur kulit, maka itu harus dipastikan dia tidak bergerak sama sekali sekitar 3-4 minggu," imbuhnya.

Mengenai tingkat kesadaran korban, Parintosa memastikan bahwa Andrie berada dalam kondisi sadar penuh selama menjalani perawatan medis.

"Sadar, sadar," jawab Parintosa.

Penasihat hukum kemudian menanyakan peluang kehadiran korban di persidangan berdasarkan penjelasan medis yang telah dipaparkan sebelumnya.

"Dari saya ada kemungkinan," jawab Parintosa.

Penasihat hukum terdakwa kembali menegaskan kepastian tersebut kepada ahli bedah plastik di persidangan.

"Bisa dengan catatan dari direktur kami," jawab Parintosa.

Di sisi lain, Faraby Martha memaparkan kerusakan fatal pada fungsi penglihatan Andrie Yunus yang kini tidak bisa lagi membaca huruf akibat paparan zat asam kuat.

"Sudah," jawab Faraby.

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan chart Snellen, fungsi penglihatan korban menurun drastis dan hanya mampu mendeteksi keberadaan cahaya.

"Ya. Jadi untuk penglihatan, fungsi penglihatan, kami tentu lakukan dengan chart Snellen ya. Iya. Tapi dalam hal Pak Andrie Yunus ini dia tidak bisa membaca huruf terbesar pun karena memang penglihatannya sangat buruk ya. Jadi dia hanya bisa membedakan cahaya. Ada atau tidaknya cahaya," jawab Faraby.

Pemeriksaan laboratorium pada 8 Mei menunjukkan kadar keasaman luka Andrie berada pada angka pH tiga, yang dikategorikan sebagai asam kuat yang merusak jaringan.

"Lab laboratorium dengan kertas pengukur keasaman pH strip," jawab Faraby.

Penasihat hukum terdakwa menanyakan lebih lanjut mengenai derajat keasaman cairan yang ditemukan pada luka korban tersebut.

"Derajatnya asam tiga, ya, pH-nya tiga dari seharusnya tujuh. Jadi sangat rendah," jawab Faraby.

Faraby kembali memberikan penegasan mengenai tingkat bahaya dari angka indikator keasaman yang ditemukan pada tubuh korban.

"Tiga itu asam. Makin ke bawah, makin ke bawah makin berat, ini asamnya makin kuat," jawab Faraby.

Oditur militer juga mencecar tim dokter mengenai tingkat keparahan trauma kimia yang diderita oleh korban pada area matanya.

"Saya tidak bisa mengorelasikan kejadian dengan keparahan, cuma yang saya tahu keparahan itu grade 3 dari 4. Jadi tingkat keparahan, trauma kimia matanya itu gradasi 3 dari 4. Artinya parah gitu ya," jawab Faraby.

Oditur kemudian mempertegas kembali skala kerusakan tersebut untuk memastikan tingkat kecacatan yang dialami korban.

"Grade 4, yang paling parah," jawab Faraby.

Hingga saat ini, tim medis RSCM masih fokus mempertahankan struktur anatomi bola mata Andrie Yunus dan belum bisa memastikan apakah fungsi penglihatan korban dapat dipulihkan kembali.

"Jadi untuk focus pengobatan saat ini adalah mempertahankan struktur anatomi dari bola mata, jadi bola matanya masih berbentuk bulat. Mengenai fungsi kami belum bisa menjawab, apakah masih melihat lagi. Dan itu akan dievaluasi secara berkala sesuai dengan nanti perkembangan klinis pasien," jawab Faraby.