Kegagalan bersejarah menimpa Tim Thomas Indonesia yang dipastikan terhenti pada fase grup turnamen bergengsi tersebut. Peristiwa ini menjadi catatan kelam karena untuk pertama kalinya Skuad Garuda gagal menembus babak gugur sejak format penyisihan grup diberlakukan pada 1984.
Langkah Indonesia terhenti setelah mengalami kekalahan telak 1-4 dari Prancis pada laga penentu Grup D. Seperti dilansir dari Medcom, hasil minor ini membuat Indonesia hanya mampu menempati peringkat ketiga dalam klasemen akhir grup.
Padahal, Indonesia memulai kompetisi dengan hasil yang cukup menjanjikan. Tim sempat meraih kemenangan sempurna 5-0 atas Aljazair dan berhasil menaklukkan Thailand dengan skor tipis 3-2 pada pertandingan sebelumnya.
Situasi berbalik drastis saat menghadapi Prancis, di mana Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan dua kemenangan partai untuk mengamankan posisi di perempat final. Namun, dari lima partai yang dimainkan, hanya satu poin yang berhasil diamankan.
Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjadi satu-satunya wakil yang menyumbangkan poin bagi Indonesia. Empat wakil lainnya gagal meraih kemenangan, sehingga memastikan keunggulan Prancis dalam laga krusial tersebut.
Kekalahan dari Prancis memicu persaingan sengit di klasemen Grup D karena Thailand juga berhasil menang besar 5-0 atas Aljazair. Kondisi ini membuat Thailand, Prancis, dan Indonesia memiliki jumlah kemenangan yang sama.
Penentuan posisi akhir harus dilakukan melalui perhitungan selisih partai sesuai dengan regulasi turnamen. Berdasarkan data tersebut, Indonesia dinyatakan berada di urutan ketiga, sementara tiket perempat final menjadi milik Thailand dan Prancis.
Capaian ini tercatat sebagai hasil paling buruk dalam partisipasi Indonesia di Piala Thomas. Rekor negatif ini melampaui kegagalan pada tahun 2012 di Wuhan, saat langkah tim terhenti di babak perempat final.
Kritik Tajam dan Desakan Evaluasi PBSI
Hasil mengecewakan ini langsung memicu reaksi keras dari para penggemar bulu tangkis di tanah air. Publik menyoroti penurunan performa atlet nasional yang dianggap sedang berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Warganet melalui media sosial menyuarakan kekecewaan mereka terhadap pengelola olahraga tepok bulu tersebut. Banyak yang membandingkan kemunduran bulu tangkis dengan kebangkitan cabang olahraga lain yang justru sedang mengukir prestasi internasional.
"Selamat untuk PBSI atas hari bersejarahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Tim Indonesia tidak lolos fase grup," ujar salah satu netizen dalam kolom komentar akun resmi PBSI.
"Gagal lolos ke QF Thomas Cup selevel Italy gagal lolos Piala Dunia ini kalau buat perspektif Badminton. Wajib evaluasi, atau ga jangan kaget thomas cup selanjutnya gagal lagi ke QF," tutur netizen lainnya.
"Dulu puluhan tahun badminton jadi satu2 nya yg dibanggakan. Sekarang di era cabor lain bangkit bikin rekor (climbing, angkat besi, Tenis, Balapan LeMans 24 jam, moto3, futsal, sepakbola, panahan). Badminton malah redup," tulis warganet lain.
"Asian Games gagal, olimpiade gagal, Thomas cup gugur fase grup, super 1000 jarang, all England kemarin tim hore haha. Berasa banget titik terbawah dalam beberapa tahun terakhir," kata netizen dengan nada kecewa.
"Udah datang nya ke denmark duluan , demi adaptasi cuaca dan lapangan, eh malah pulang duluan," ucap warganet memberikan kritik atas persiapan tim yang dianggap tidak sebanding dengan hasil lapangan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·