Kecelakaan yang terjadi di Bekasi Timur 27/4 April ini suka tidak suka menambah panjang tragedi dunia perkeretaapian nasional. Terlepas dari duka mendalam yang menyelimuti kita semua, insiden ini menyisakan persoalan yang harus kita benahi bersama; mengelola transportasi secara cermat dalam mendukung keselamatan masyarakat.
Berdasarkan informasi yang penulis terima di lokasi kejadian, serta pemberitaan yang berkembang di media massa, kecelakaan itu bermula dari adanya kendaraan roda empat yang mengalami gangguan, sehingga menyebabkan kendaraan tersebut tertabrak oleh KRL. Insiden ini lebih lanjut berdampak pada kecelakaan lainnya, yakni KRL ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.
Situasi seperti ini tentu memicu dua pertanyaan sekaligus di benak publik. Pertama, bagaimana sistem peringatan berbasis palang pintu seharusnya bekerja untuk menghindari adanya kendaraan yang masuk saat kereta api melintas? Kedua, bagaimana sistem persinyalan bekerja untuk menginformasikan adanya bahaya bagi kereta api yang sedang melaju?
Dugaan Penyebab Kecelakaan
Dalam konteks masuknya sebuah kendaraan di perlintasan palang kereta api, ada beberapa hal yang harus dicermati. Keberadaan palang kereta api seyogianya dimaknai sebagai instrumen keselamatan bagi masyarakat dan juga moda transportasi yang melalui. Palang kereta api seyogianya ditempatkan sebagai zona berisiko tinggi dalam berkendara, bukan perpanjangan jalan raya yang bisa dilalui dengan mengabaikan rambu-rambu lalu lintas.
Kesalahan dalam memaknai eksistensi palang kereta api inilah yang menjadi risiko terbesar terjadinya kecelakaan. Sistem perpalangan sendiri sudah mengadopsi teknologi modern yang digerakkan secara otomatis oleh sistem berdasarkan perintah, bukan dipasang secara manual oleh petugas.
Penelaahan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan karena kendaraan melintas jalur kereta api juga perlu ditujukan pada aspek infrastruktur dan teknologi kendaraan yang berkembang, termasuk kendaraan bertenaga listrik yang saat ini masif berkembang. Karakter kelistrikan sebuah kendaraan yang meliputi sistem pengapian, manajemen daya kendaraan, serta sistem transmisi akan sangat bergantung pada sistem dan pasokan energi ke kendaraan, serta sensor elektronik.
Dengan pemahaman demikian, maka melewati sistem perlintasan kereta api akan bermakna menempatkan kendaraan yang dikemudikan ke dalam zona interupsi elektromagnetik dari sistem kelistrikan kereta api. Sirkumstansi seperti inilah yang menimbulkan kerentanan bagi kendaraan bertenaga listrik untuk melintas karena akan terkunci dan sulit didorong saat mogok. Di ruang publik, sering muncul anggapan bahwa kendaraan bisa mati di atas rel karena “tarikan medan listrik” kereta dapat dijelaskan dengan logika medan elektromagnetik tadi.
Dalam konteks tabrak belakang yang dilakukan oleh KA Argo Bromo Anggrek, ada beberapa kemungkinan yang terjadi seturut keterangan dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Ada potensi terjadinya pelanggaran terhadap sinyal merah atau Signal Passed at Danger (SPAD), kegagalan persinyalan yang menampilkan informasi keliru (wrong side failure), hingga kesalahan berkomunikasi dalam penerapan prosedur berjalan hati-hati.
Selain itu, kemungkinan yang bisa terjadi adalah adanya penyimpangan prosedur operasional, sehingga memungkinkan kereta masuk ke jalur yang masih terisi, adanya gangguan teknis seperti kegagalan masinis untuk mengerem, hingga faktor-faktor manusia yang dialami oleh masinis seperti penurunan konsentrasi atau ketidakcermatan dalam membaca informasi yang dikirimkan.
Terlepas dari berbagai kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut, akan lebih bijak kita sebagai masyarakat untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi para pemangku kebijakan seperti Kemenhub RI, PT KAI, dan KNKT untuk melakukan proses investigasi terhadap kecelakaan yang terjadi. Proses investigasi yang komprehensif membutuhkan waktu agar dapat dicari dan dijelaskan penyebab kecelakaan secara terang benderang kepada masyarakat, khususnya bagi keluarga korban.
Proses evaluasi terhadap sistem perkeretaapian nasional juga mutlak dilakukan dengan menjadikan tragedi ini sebagai titik tolak untuk pembenahan secara lebih mitigatif dan komprehensif ke depan. Proses evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan meninjau semua aspek yang berpengaruh terhadap operasional transportasi mulai dari kelayakan infrastruktur, dukungan teknologi, sistem prosedur operasional, sumber daya manusia, serta mekanisme pemeliharaan yang dijalankan.
Pembelajaran Bersama Semua Pihak
Tragedi kecelakaan kereta api di Bekasi Timur ini tentu menjadi luka mendalam bagi masyarakat Indonesia yang pada bulan ini memperingati Hari Transportasi Nasional. Adanya tragedi ini seakan menjadi pengingat dan momentum kesadaran untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh agar penyelenggaraan sistem transportasi nasional, khususnya yang berbasis kereta api, dapat mendukung tidak hanya kenyamanan berkendara, tapi juga keselamatan masyarakat.
Keselamatan menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan mengedepankan 4 pilar utama, yakni engineering, education, enforcement, serta empowerment. Masing-masing pilar tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Semoga tragedi Bekasi Timur ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih mengedepankan keselamatan transportasi.
Para pengguna dituntut untuk cerdas dan bijak dalam berkendara. Para petugas dituntut untuk mematuhi prosedur yang ditetapkan. Sedangkan para penyelenggara dituntut untuk terus-menerus melakukan perbaikan agar memberikan pelayanan yang paripurna kepada masyarakat. 
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P
Alumnus Magister Ilmu Pemerintahan dan Kebijakan Publik SGPP Indonesia & Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·