Jakarta (ANTARA) - Kuasa Usaha Delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Stephane Mechati menyoroti persatuan dan keberagaman budaya negara-negara Uni Eropa yang ingin ditunjukkan kepada masyarakat Indonesia, saat menyambut Festival Film Eropa (Europe on Screen/EoS) 2026.
"Kami bersatu dalam keberagaman. Ini bukan sekadar semboyan. Ini filosofi. Kami ingin membawa budaya toleransi, budaya saling pengertian. Memahami satu sama lain dengan lebih baik berarti membangun masa depan bersama," katanya dalam konferensi pers di Pusat Kebudayaan Prancis IFI (Institut Français d'Indonésie), Jakarta, Selasa.
Dia menekankan pentingnya persatuan di tengah tantangan global yang harus diatasi bersama-sama dengan masyarakat internasional.
Melalui festival tersebut, Mechati, bersama perwakilan negara-negara Uni Eropa lainnya, juga ingin menunjukkan keberagaman budaya di antara negara-negara anggota, dan menghadirkan kerangka kemitraan, baik di bidang ekonomi, politik, keamanan, perdagangan, dan lainnya, guna membangun masa depan bersama-sama.
"Dan pada akhirnya, kita adalah manusia. Jadi, pertama-tama kita perlu saling memahami. Membicarakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita masing-masing. Dan festival film ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap hal itu," katanya.
Dia menyoroti perasaan, emosi dan sentimen yang kerap diekspresikan secara berbeda-beda di setiap komunitas masyarakat di Indonesia. Demikian halnya di Eropa.
"Meskipun kita memiliki kekhawatiran dan persepsi yang sangat mirip terhadap suatu realitas, tetapi kita memiliki kekhasan masing-masing. Dan yang menarik adalah melihat variasi dan keragaman budaya kita masing-masing dalam mengekspresikan emosi tersebut," kata Mechati.
Dia menambahkan bahwa film-film yang akan dihadirkan selama festival tersebut bukan sekadar platform untuk mengekspresikan emosi, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan suara dari orang-orang yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikannya.
"Jadi, ada tema-tema sosial, ada keprihatinan yang diungkapkan terkait hubungan internasional. Jadi, ini menjadi wadah untuk menyuarakan pendapat mereka yang tidak selalu memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan mereka," demikian katanya.
"Melalui EoS 2026, kami berusaha menghadirkan film-film inklusif, baik dari sisi tema, perspektif, maupun para pembuat filmnya," kata Festival Co-Director Europe on Screen 2026, Nauval Yazid.
Nauval mengaku senang karena pada festival tahun ini, mereka dapat menampilkan karya dari sutradara perempuan dan filmmaker debutan yang membawa suara-suara baru di sinema Eropa.
"Kami berharap penonton Indonesia bisa menemukan cerita yang terasa dekat sekaligus memperluas perspektif mereka tentang kehidupan dan budaya di Eropa," demikian katanya.
Europe on Screen akan berlangsung selama 11 hari mulai 4-14 Juni 2026, dengan menghadirkan 55 film dari 28 negara Eropa yang akan diputar secara gratis di Pusat Kebudayaan Prancis, Jerman, Italia, dan negara Eropa lain di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang.
Memasuki edisi ke-26, Europe on Screen menjadi festival film Eropa terlama di Indonesia sekaligus ruang pertemuan budaya antara Eropa dan Indonesia melalui sinema.
Program tahun itu menghadirkan beragam tema, perspektif dan gaya sinematik, termasuk karya dari 31 sutradara perempuan dan 9 sineas debutan, yang mencerminkan komitmen festival terhadap inklusivitas dan keberagaman dalam dunia perfilman.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan ingin talenta perfilman punya ruang tumbuh
Baca juga: Anggota DPR usulkan pengalokasian dana untuk bioskop desa
Pewarta: Katriana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·