Umat Buddha Ambil Api Dharma Mrapen Jelang Puncak Waisak 2026

Sedang Trending 18 jam yang lalu

Rangkaian kegiatan puncak Perayaan Hari Raya Waisak 2026 yang dipusatkan di Candi Borobudur resmi dimulai pada Jumat (29/5/2026). Tahapan awal ini ditandai dengan prosesi pengambilan Api Dharma dari Sumber Api Alam Mrapen di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Sebelum api sakral diambil pada pukul 12.00 WIB, sejumlah majelis agama Buddha melaksanakan penyalaan lilin panca warna dan pembacaan paritta suci. Rombongan kemudian mengarak api tersebut menuju Candi Mendut sebelum nantinya dipersembahkan di Candi Borobudur.

Pandita Dharmaduta Suyamto dari Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia menjelaskan bahwa umat Buddha mensakralkan api alam yang keluar dari perut bumi tersebut.

"Kenapa disakralkan dulu? Karena sesuatu hal itu diubah bentuknya untuk menjadi Amerta, Amerta Agni itu adalah satu di antaranya untuk melaksanakan Puja atau persembahan dari simbol kehidupan yang sangat pertama kali untuk suatu kehidupan di dunia ini," kata Suyamto.

Suyamto menambahkan bahwa Api Dharma ini menjadi simbol sumber penerang yang tidak pernah lelah seperti matahari di dunia.

"Api yang disakralkan pada saat ini adalah sumber penerang, yaitu ibaratnya seperti matahari itu tak kunjung lelah, pagi datang, sore surup, itu gaya dari sebuah penerangan. Nah, api ini, walaupun dalam kegelapan, kalau api muncul makan sesuatu akan kelihatan jelas." kata Suyamto.

Melalui simbol api ini, manusia diharapkan dapat melihat hal-hal benar dan salah secara jelas dalam memulai pikiran, ucapan, serta perbuatan.

"Ia juga menyampaikan bahwa setelah prosesi pengambilan Api Abadi yang kemudian dijadikan sebagai Api Dharma, api tersebut secara simbolis akan dibawa dan disemayamkan di Candi Mendut sebelum akhirnya dipersembahkan di Candi Borobudur." kata Suyamto.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha, Nyoman Suriadarma menerangkan bahwa Api Mrapen merepresentasikan semangat yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup.

"Hari ini telah selesai dilaksanakan prosesi pensakralan Api Abadi serta pembacaan paritta oleh berbagai mazhab dan dilakukan pradaksina. Aktivitas ini merupakan sesuatu yang rutin setiap tahun, dalam upaya kita melakukan suatu penghargaan penghormatan kepada segenap kehidupan karena api merupakan bentuk dari semangat," jelas Nyoman.

Menurut Nyoman, ritual pradaksina di situs candi bertujuan memohon keselamatan keluarga, bangsa, negara, alam, serta perdamaian dunia.

"Dirinya juga menjelaskan bahwa pelaksanaan pradaksina merupakan salah satu bentuk ritual untuk melakukan penghormatan kepada situs-situs Candi Buddha dengan harapan keselamatan keluarga, bangsa, negara dan keselamatan alam maupun kedamaian dunia." kata Nyoman.

Pada hari yang sama, rangkaian perayaan Trisuci Waisak 2570 BE/2026 juga diisi dengan ritual Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Wanurejo, Borobudur, Magelang. Dilansir dari kumparan.com, ratusan peserta menyalakan pelita pada gunungan sebelum menghanyutkannya ke sungai sebagai simbol penerangan, pesan perdamaian, dan harapan kehidupan yang lebih baik.