Umat Islam Wajib Mengqadha Puasa Ramadan Setelah Idulfitri 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Umat Islam memiliki kewajiban untuk menunaikan puasa qadha setelah perayaan Idulfitri, yang jatuh pada 21 Maret 2026. Kewajiban ini berlaku bagi mereka yang memiliki utang puasa selama bulan Ramadan karena berbagai alasan kesehatan atau lainnya. Pelaksanaan puasa qadha dapat dimulai sejak 22 Maret 2026.

Puasa qadha adalah pengganti ibadah wajib yang tertinggal di luar waktu pelaksanaannya. Mereka yang tidak melaksanakan puasa Ramadan karena uzur syar’i, seperti sakit, safar, haid, atau nifas, wajib menggantinya. Dasar hukumnya terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184, yang mewajibkan penggantian puasa di hari lain bagi yang tidak menjalankannya.

Kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, yang ditulis oleh Wahbah az-Zuhaili, menyatakan puasa qadha adalah bentuk tanggung jawab ibadah yang tidak gugur karena waktu telah berlalu. Kewajiban ini mengikat hingga ditunaikan. Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar terbit, merujuk pada pendapat mayoritas ulama.

Niat puasa qadha memiliki bacaan, "Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala," yang berarti "Aku berniat untuk mengqadha puasa Ramadan esok hari karena Allah SWT." Niat diucapkan dalam hati, namun melafalkannya tetap dianjurkan. Pelaksanaan puasa qadha dapat dilakukan kapan saja setelah Idulfitri hingga menjelang Ramadan berikutnya.

Imam Nawawi, dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, menegaskan bahwa menyegerakan qadha lebih utama daripada menundanya. Menunda qadha tanpa alasan yang dibenarkan hingga masuk Ramadan berikutnya dinilai sebagai kelalaian. Mereka yang wajib mengqadha puasa adalah orang sakit yang diharapkan sembuh, musafir, perempuan haid dan nifas, serta orang yang membatalkan puasa tanpa alasan syar’i.

Puasa qadha tidak perlu dilakukan secara berurutan. Umat Islam diberikan fleksibilitas untuk melakukannya secara terpisah sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing. Namun, jika mampu, melaksanakan qadha secara berturut-turut dinilai lebih utama karena mencerminkan kesungguhan dalam menyelesaikan kewajiban. Dilansir dari Cahaya, puasa qadha adalah bentuk kesetiaan seorang hamba dalam menjaga hubungan dengan Allah.