Undip-BRIN-Griffith University luncurkan buku tantangan iklim Pantura

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Dampak perubahan iklim dan pembangunan seperti banjir, rob, hingga penurunan muka tanah terus menjadi tantangan yang serius bagi masyarakat pesisir, terutama perempuan dan anak-anak,

Semarang (ANTARA) - Universitas Diponegoro (Undip) Semarang bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Griffith University Australia meluncurkan buku tentang tantangan iklim di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Peneliti Undip Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani, sebagai salah satu penulis buku itu, dalam pernyataan di Semarang, Senin, menjelaskan, masyarakat pesisir Pantura menghadapi tantangan perubahan iklim.

"Dampak perubahan iklim dan pembangunan seperti banjir, rob, hingga penurunan muka tanah terus menjadi tantangan yang serius bagi masyarakat pesisir, terutama perempuan dan anak-anak," katanya.

Menurut pengajar Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (DPWK) Fakultas Teknik, Undip itu, kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu menjadi penting untuk mendukung terwujudnya solusi terhadap permasalahan kompleks yang dihadapi Pantura Jawa.

"Kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi penting untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif, inklusif, dan aplikatif untuk mewujudkan kota yang berketahanan iklim," kata Wiwandri,

Buku tersebut berjudul "Climate Change, Labour and Migration: Impacts on Women and Children", yang merupakan hasil kerja sama penelitian berjudul "Compelled labour and climate change: keeping a focus on women and children".

Penguatan buku oleh ketiga institusi tersebut didanai hibah riset KONEKSI dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.

Melalui buku tersebut didokumentasikan berbagai hasil kajian mengenai isu perubahan iklim, ketenagakerjaan, dan migrasi beserta dampaknya di sejumlah wilayah Pesisir Utara Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak.

Secara khusus, buku tersebut mengulas dampak sosial yang dialami perempuan dan anak sebagai kelompok masyarakat yang rentan.

Melalui pendekatan interdisiplin, kata dia, kumpulan tulisan tersebut menghadirkan beragam perspektif mengenai bagaimana isu-isu tersebut muncul, saling berinteraksi, dan pada akhirnya berdampak pada masyarakat pesisir.

Wiwandari mengatakan, tim peneliti menekankan pentingnya kebijakan yang menempatkan perlindungan perempuan dan anak sebagai bagian utama dalam adaptasi perubahan iklim.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi untuk memperkaya perspektif dan rekomendasi kebijakan bagi para pembuat kebijakan untuk bekerja sama dalam mewujudkan solusi yang utuh dan konkret untuk menjawab tantangan tersebut.

"Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kebijakan berbasis riset dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi perubahan iklim untuk pembangunan yang berketahanan iklim," kata Wiwandari.

"Upaya ini juga turut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), (Pendidikan Berkualitas), SDGa 5 (Kesetaraan Gender), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)," kata Wiwandari.

Kemudian, SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Baca juga: Undip-Tianjin Medical University kerja sama riset kedokteran

Baca juga: Dorong kompetensi, Sekolah Vokasi Undip gandeng perusahaan asing

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.