Kepala Misi dan Komandan UNIFIL Mayjen Diodato Abagnara memimpin upacara penghormatan terakhir bagi Prajurit TNI Kopda Rico Pramudia di Beirut, Lebanon, pada Senin (27/4/2026). Personel penjaga perdamaian berusia 31 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir pada Jumat (24/4/2026) setelah sempat menjalani perawatan intensif.
Kopda Rico Pramudia meninggal dunia akibat luka berat yang dideritanya dalam sebuah insiden serangan artileri dari tank militer Israel. Serangan tersebut menghantam posisi UNIFIL di Lebanon selatan pada akhir Maret 2026 lalu, yang menambah daftar panjang korban jiwa di pihak pasukan perdamaian.
Komandan UNIFIL menegaskan bahwa pengabdian prajurit asal Indonesia ini merupakan bentuk pengorbanan tertinggi demi stabilitas kawasan. Prosesi upacara di Beirut ini dihadiri oleh jajaran petinggi militer internasional dan rekan sejawat kontingen Indonesia.
"Kamu datang ke sini, jauh dari rumah, mengabdi di bawah bendera PBB, untuk membawa perdamaian di kawasan ini. Di sini, di Lebanon Selatan, kamu telah memberikan segalanya. Hormat kami atas segala pengorbananmu untuk perdamaian di tanah ini," kata Abagnara dikutip dari laman resmi UNIFIL.
Pihak pimpinan misi perdamaian juga menyampaikan komitmen kuat untuk tetap melanjutkan mandat PBB di wilayah tersebut. Komitmen ini dipandang sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para prajurit yang telah gugur di medan tugas.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan situasi di Lebanon selatan melalui media sosial. Guterres mengonfirmasi bahwa korban merupakan bagian dari personel yang terdampak eskalasi militer antara Israel dan Hizbullah.
"Saya sedih mengetahui bahwa seorang lagi penjaga perdamaian Indonesia UNIFIL telah meninggal dunia akibat luka-lukanya setelah sebuah insiden pada bulan Maret, ketika sebuah peluru artileri yang ditembakkan dari tank Pasukan Pertahanan Israel mengenai posisi @UNIFIL di Lebanon selatan, menurut temuan awal UNIFIL," kata Guterres.
Kepala PBB tersebut juga menyoroti peningkatan risiko yang dihadapi oleh personel pemelihara perdamaian di wilayah konflik. Ia menegaskan bahwa keselamatan petugas di bawah bendera PBB harus menjadi prioritas utama pihak-pihak yang bertikai.
"Turut berduka cita yang terdalam kepada keluarga, teman, dan rekan kerja para penjaga perdamaian yang gugur, dan saya berharap pemulihan yang cepat dan sempurna bagi yang lain yang terluka," ujarnya.
Hingga saat ini, total enam personel UNIFIL dilaporkan tewas dalam rangkaian insiden baru-baru ini di Lebanon. Guterres mendesak adanya penghentian segera terhadap tindakan militer yang menyasar markas atau personel perdamaian internasional.
"Enam penjaga perdamaian yang bertugas dengan UNIFIL kini telah tewas dan beberapa lagi mengalami luka serius setelah insiden-insiden baru-baru ini di tengah permusuhan antara Hizbullah dan Pasukan Pertahanan Israel," ujarnya.
Situasi di Lebanon selatan tetap tegang seiring meningkatnya intensitas baku tembak di sepanjang perbatasan. Pihak PBB menekankan bahwa setiap serangan terhadap personel PBB adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
"Serangan-serangan ini harus dihentikan," tutupnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·