Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia buka suara terkait viral dugaan sejumlah orang di Indonesia memalsukan riset ilmiah dengan bantuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) demi memperoleh travel grant dan bisa mengikuti konferensi di berbagai negara.
Kasus ini ramai dibicarakan di media sosial setelah terduga oknum mengikuti konferensi ilmiah internasional di bidang kedokteran meski bukan berasal dari latar belakang tenaga kesehatan maupun dokter.
"Bukan dokter, bukan perawat, bukan nakes tapi bisa dapat puluhan travel grant selama dua hingga tiga tahun di bidang spesialis kedokteran semua," tulis salah satu warganet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu terduga pelaku yang menjadi sorotan bahkan mencantumkan bio sudah mengunjungi lebih dari 50 negara berbekal undangan di kongres. "Traveling around the world with science | 57 Countries & Still Counting | Maths, BioMedicine, and CS."
Menanggapi hal itu, Prof Theddeus Octavianus Hari Prasetyono dari Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) menilai persoalan tersebut lebih masuk ke ranah etik dan integritas akademik.
"Terduga kuat ini adalah persoalan di ranah etik. Tidak langsung menyasar persoalan hukum, kecuali dibawa oleh penyelenggara kegiatan ilmiah," kata Prof Theddeus saat dihubungi detikcom, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, pihak yang paling berwenang menangani dugaan pelanggaran etik adalah institusi atau akademik tempat individu tersebut bernaung. "Yang paling berwenang di arena etik ini adalah institusi akademik yang menaungi individu yang melanggar etik atau integritas akademik," ujarnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan adanya 'kebobolan' dalam proses seleksi konferensi ilmiah internasional apabila riset yang diduga tidak valid itu benar-benar lolos hingga dipresentasikan.
"Kalau memang betul riset mereka sampai tembus dan ditampilkan di kegiatan ilmiah, berarti salinan paper yang diterima belum cukup kuat mendeteksi adanya riset yang tidak benar," katanya.
Tanda tanya juga muncul terkait dugaan travel grant berkali-kali dalam waktu singkat tanpa kompetisi ketat. Menurut Prof Theddeus, umumnya grant penelitian memiliki seleksi dan kuota terbatas.
"Sangat tidak mudah mendapatkan grant. Kalau ada peneliti bisa pergi berpuluh-puluh kali dalam setahun, tentu menjadi pertanyaan besar," ucapnya.
Ia menjelaskan di sejumlah institusi memang ada dukungan pendanaan bagi peneliti untuk menghadiri konferensi ilmiah. Namun biasanya jumlahnya terbatas dan diberikan berdasarkan capaian kinerja.
"Relatif saya tidak pernah menemukan ada institusi yang bisa memberikan travel grant tanpa kompetisi berkali-kali untuk satu orang staf atau peneliti," lanjutnya.
Prof Theddeus juga menilai bila dugaan ini benar, penyelenggara konferensi ilmiah internasional perlu melakukan evaluasi terhadap sistem seleksi paper dan pemberian grant.
"Penyelenggara ilmiah dunia juga harus menilik diri, mengapa bisa lolos," katanya.
Meski begitu, ia meminta masyarakat tidak langsung menggeneralisasi kasus ini sebagai gambaran dunia riset Indonesia secara keseluruhan. Karenanya, Indonesia tidak perlu merasa 'rendah diri' atas laporan tersebut.
"Pelanggaran etik bisa terjadi di negara maju sekalipun. Itu dilakukan oleh oknum," pungkasnya.
Simak Video "Video: Diabetes di Usia 29 gegara Doyan Makan Dessert Viral"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·