Wall Street Melemah, Harga Minyak Mahal Picu Kekhawatiran Inflasi Meningkat

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks utama saham AS atau Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Senin (18/5). Dengan Nasdaq yang didominasi saham teknologi memimpin penurunan seiring investor mengambil keuntungan. Kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS (treasury) dan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa inflasi serta biaya pinjaman dapat tetap tinggi.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 6,32 poin atau 0,01 persen menjadi 49.519,85. S&P 500 turun 32,03 poin atau 0,43 persen ke 7.376,47, sedangkan Nasdaq Composite merosot 233,78 poin atau 0,89 persen menjadi 25.991,37.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan biaya pinjaman global, berada di level 4,63 persen setelah sebelumnya naik ke posisi tertinggi sejak Februari 2025.

Aksi jual di pasar obligasi dipicu oleh lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi dan menjaga biaya pinjaman tetap mahal. Kekhawatiran itu muncul di tengah upaya mengakhiri perang Iran yang terlihat mengalami hambatan.

Minyak mentah AS naik hampir 1 persen. Harga sebelumnya sempat turun dalam perdagangan yang bergejolak setelah muncul laporan bahwa AS mengusulkan pelonggaran sementara sanksi minyak terhadap Iran. Namun, pejabat Iran belum memberikan tanggapan.

S&P 500 dan Nasdaq berada di jalur pelemahan untuk hari kedua berturut-turut karena investor menghentikan sejenak reli yang dimulai sejak akhir Maret.

S&P 500 ditutup lebih dari 18 persen di atas level terendah pascaperang pada 30 Maret, sementara Nasdaq telah naik 28 persen. Kenaikan tersebut didorong antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan laporan laba perusahaan teknologi yang kuat, sehingga investor mengabaikan ancaman inflasi.

“Ada kekhawatiran terhadap reli yang terjadi dalam waktu singkat, dan ada aksi ambil untung,” kata Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist di Ingalls & Snyder, New York.

Meski menyebut kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi turut mendorong aksi jual pada Senin, Ghriskey menilai faktor-faktor tersebut bukan hal baru.

“Banyak investor seperti mengikuti arus. Mereka melihat pelemahan dan ikut menjual,” katanya.

Sektor teknologi informasi turun 1,9 persen dan menjadi penekan terbesar di antara 11 sektor utama S&P 500. Saham-saham chip termasuk yang paling membebani pasar, dengan Philadelphia SE Semiconductor Index turun 3,8 persen.

Sementara itu, sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik, naik 1,8 persen.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 40 persen bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada Januari, menurut alat FedWatch CME. Perkiraan tersebut muncul setelah data inflasi pekan lalu lebih tinggi dari ekspektasi.

Perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, Nvidia, dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu. Saham produsen chip tersebut menjadi penekan terbesar S&P 500 pada Senin dengan penurunan 2,2 persen.

Ekspektasi terhadap Nvidia sangat tinggi. Sahamnya telah naik 36 persen dari titik terendah pada Maret, sementara Philadelphia Semiconductor Index telah melonjak lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini karena kuatnya permintaan chip terkait AI.

Walmart, peritel terbesar dunia, juga dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini. Laporan tersebut diperkirakan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi daya beli konsumen AS di tengah tingginya harga energi dan inflasi.

Di S&P 500, saham perusahaan perangkat lunak ServiceNow memimpin penguatan dengan kenaikan 9,6 persen setelah BofA Global Research kembali meliput perusahaan tersebut dengan rekomendasi “beli” dan target harga yang mengindikasikan potensi kenaikan hampir 37 persen.

Saham Dominion Energy melonjak 8 persen setelah NextEra Energy mengumumkan akan mengakuisisi perusahaan utilitas tersebut melalui transaksi saham senilai sekitar USD 66,8 miliar. Namun, saham NextEra turun hampir 7 persen.

Sementara itu, saham Regeneron anjlok hampir 10 persen setelah pengobatan eksperimental perusahaan gagal mencapai target utama dalam uji tahap akhir pada pasien melanoma stadium lanjut, salah satu jenis kanker kulit.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui saham yang turun dengan rasio 1,1 banding 1. Tercatat 144 saham mencapai level tertinggi baru dan 116 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 2.124 saham menguat dan 2.608 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap saham naik sebesar 1,23 banding 1. S&P 500 mencatatkan 20 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 13 level terendah baru.

video story embed