Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono menyebut program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bakal memberi dampak besar bagi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Hal itu disampaikan Dante saat jumpa pers di Posyandu Tela 9, Cigelereng, Bandung, usai kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing.
“Kalau ini bisa diatasi masalah-masalah penting seperti ini, pembiayaan kesehatan 5 sampai 10 tahun lagi akan berasa klaim BPJS akan semakin rendah karena masyarakatnya lebih sehat,” kata Dante kepada wartawan, Selasa (12/5).
Ia menjelaskan, melalui CKG masyarakat dapat mengetahui lebih awal faktor risiko penyakit seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes sehingga bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama sebelum berkembang menjadi komplikasi berat.
“Lebih baik diobati di Puskesmas untuk yang kolesterolnya tinggi, untuk yang tensinya tinggi, untuk yang gulanya tinggi, daripada mereka sudah harus kena komplikasi akhirnya harus cuci darah, harus kena stroke, kena jantung,” ujarnya.
Menurut Dante, bila pemeriksaan rutin terus dilakukan, maka dalam beberapa tahun mendatang angka penyakit jantung, stroke, diabetes hingga gagal ginjal dapat ditekan.
“Mungkin kita belum bisa melihat manfaatnya CKG secepat sekarang, tapi teman-teman akan lihat 5-10 tahun lagi angka penyakit jantung akan turun, stroke akan turun, kemudian diabetes akan turun, gagal ginjal akan turun,” ucapnya.
Dante mengungkapkan, penyakit yang paling sering ditemukan dalam program CKG berbeda-beda berdasarkan kelompok usia.
Pada orang dewasa, kasus yang dominan adalah hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan karies gigi.
“Yang menempati urutan itu hipertensi, kolesterol, obesitas, aktivitas fisik kurang, karies dentis atau gigi berlubang,” katanya.
Sementara pada anak sekolah, persoalan yang paling banyak ditemukan adalah gigi berlubang.
“Untuk anak sekolah, yang paling banyak itu karies dentis, gigi berlubang,” lanjutnya.
Dalam pengembangan program CKG, Kemenkes juga tengah menyiapkan distribusi alat rontgen ke seluruh puskesmas guna memperkuat deteksi tuberkulosis (TBC).
“Nanti kita akan bagi rontgen ke seluruh Puskesmas, supaya Puskesmas bisa ngerontgen dan ketahuan kalau ada TBC-nya apa nggak di CKG,” ujar Dante.
Namun ia mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap evaluasi dan penggodokan pendanaan.
Selain itu, Dante menjelaskan pelaksanaan CKG masih menghadapi tantangan di wilayah DTPK (Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan). Menurutnya, sejumlah daerah masih sulit dijangkau karena keterbatasan akses.
“Ada beberapa wilayah DTPK yang masih sulit dijangkau, tapi kita terus kerja,” katanya.
Ia mencontohkan pelaksanaan CKG di wilayah kepulauan Sulawesi yang harus dilakukan menggunakan perahu untuk mendatangi pulau-pulau kecil. Sementara di Papua, keterbatasan akses juga masih menjadi hambatan.
Dalam kesempatan yang sama, Dante mengatakan jumlah penerima manfaat pada tahun lalu telah menjangkau sekitar 70 juta orang. Sementara hingga saat ini pada 2026 jumlah penerima baru mencapai sekitar 20 juta orang dan diharapkan akan terus meningkat.
“Kalau saya enggak salah sekarang sekitar 20 jutaan. Mudah-mudahan tahun ini kita bisa tambah terus-terus-terus naik. Mudah-mudahan bisa sampai 120, 150 juta tahun ini,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan CKG, Kemenkes juga menggandeng perusahaan ojek online.
Dante menyebut pekan depan sebanyak 1.000 pengemudi ojek online akan mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di Bandung.
“Minggu depan saya mau ke sini lagi, cek ke Bandung lagi. Saya kerja sama dengan GoTo, Gojek. Seribu pengendara Gojek akan kita cek kesehatan gratis di Bandung,” katanya.
Program serupa juga akan digelar di sejumlah daerah lain seperti Palembang, Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Malang.
Menurut Dante, keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat seperti saat program vaksinasi COVID-19 berlangsung.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·