Wang Yi akan pidato di New York soal penguatan sistem internasional

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Beijing (ANTARA) - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi akan berpidato soal pentingnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dalam pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan (DK) PBB dalam masa kepemimpinan China sebagai presiden bergilir DK PBB.

"Sebagai presiden bergilir Dewan Keamanan PBB untuk bulan Mei, China akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi DK PBB pada 26 Mei," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (22/5).

"Menteri Luar Negeri Wang Yi akan memimpin pertemuan di New York dengan tema pertemuan 'Menjunjung Tinggi Tujuan dan Prinsip Piagam PBB dan Memperkuat Sistem Internasional yang Berpusat pada PBB'," kata Guo Jiakun menambahkan.

DK PBB memiliki lima anggota tetap dengan hak veto yaitu Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Inggris, dan Prancis. Sementara 10 negara anggota tidak tetap DK PBB dipilih untuk masa jabatan selama dua tahun, dalam Sidang Majelis Umum PBB.

Setiap bulannya baik negara anggota tetap maupun tidak tetap, memegang kepresidenan DK PBB secara bergilir menurut abjad dan per 1 Mei 2026, China menjadi presiden bergilir DK PBB.

"Sebagai ketua bergilir DK PBB pada bulan Mei, China mengusulkan untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Dewan Keamanan. Pertemuan ini akan berfokus pada isu-isu yang sangat penting bagi komunitas internasional, termasuk relevansi Piagam PBB saat ini, mengamati dan mempraktikkan tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB, serta meningkatkan otoritas dan efektivitas PBB dan Dewan Keamanan," ungkap Guo Jiakun.

Pertemuan tersebut, kata Guo Jiakun, akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi, dan terbuka untuk semua negara anggota PBB.

"Menteri luar negeri dan perwakilan tingkat tinggi dari berbagai negara telah memastikan kehadiran mereka, dan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres akan memberi pengarahan pada acara tersebut," tambah Guo Jiakun.

Guo Jiakun menyebut dunia saat ini menyaksikan transformasi kian cepat yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir, reformasi dan gejolak yang saling terkait, serta perang dan konflik tiada henti.

Baca juga: Presiden Brasil desak reformasi Dewan Keamanan PBB

"Sistem internasional dengan PBB sebagai intinya menghadapi pukulan dan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami berharap bahwa melalui pertemuan ini, para pihak akan memperbarui tujuan-tujuan baik yang tercantum dalam Piagam PBB," ungkap Guo Jiakun.

Ia juga menyebut Menlu Wang Yi akan mengajak anggota DK PBB untuk menegaskan kembali komitmen teguh terhadap multilateralisme dan mengajak anggota untuk meningkatkan tanggung jawab mereka dalam menghidupkan kembali status dan peran PBB serta mengumpulkan sinergi yang lebih besar untuk mereformasi dan meningkatkan tata kelola global.

"Ketika unilateralisme dan hegemoni yang kembali muncul memberikan pukulan berat pada sistem internasional dengan PBB sebagai intinya dan tatanan internasional yang didasarkan pada hukum internasional, dunia berisiko mengalami kemunduran ke hukum rimba," kata Guo Jiakun.

Menjaga otoritas PBB dan kesetaraan internasional

Dalam pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Guo Jiakun menyebut, kedua pemimpin juga sepakat bahwa sebagai anggota tetap DK PBB dan negara-negara besar yang bertanggung jawab, China dan Rusia harus meningkatkan kewajiban mereka dan bersama-sama menjaga otoritas PBB serta keadilan dan kesetaraan internasional.

"China dan Rusia sama-sama akan semakin memperdalam koordinasi strategis dalam membangun dunia multipolar dan meningkatkan tata kelola global, menyampaikan seruan yang kuat sesuai dengan situasi saat ini, dan menjadi sumber stabilitas dan kekuatan bagi perdamaian dan pembangunan dunia," tambah Guo Jiakun.

Selain menghadiri rapat DK PBB, Wang Yi juga dijadwalkan akan menghadiri pertemuan "Kelompok Sahabat Tata Kelola Global" di New York pada 28 Mei, dan akan mengadakan pertemuan dengan Sekjen PBB dan para menteri luar negeri dari negara lain.

"Pada Desember tahun lalu, Kelompok Sahabat Tata Kelola Global diresmikan di New York, Jenewa dan Wina dengan pertambahan jumlah anggota, pengaruh dan kohesinya juga meningkat. Hal ini sepenuhnya menunjukkan bahwa Inisiatif Tata Kelola Global yang diinisiasi Presiden Xi Jinping berada di garis depan dan memenuhi kebutuhan semua negara. Di sinilah alur sejarah berbelok dan tren opini publik terbentuk," ungkap Guo Jiakun.

Ia mengatakan China berharap semua pihak akan memanfaatkan pertemuan "Kelompok Sahabat" nanti sebagai kesempatan untuk membangun konsensus tentang reformasi, memperkuat koordinasi dan kerja sama, menemukan solusi efektif untuk tantangan global, bersama-sama menjaga otoritas dan kedudukan PBB dan mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata.

Anggota tetap DK PBB terdiri atas China, Prancis, Rusia, Inggris dan AS sedangkan anggota tidak tetap DK PBB pada 2026 adalah Bahrain, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Yunani, Latvia, Liberia, Pakistan, Panama dan Somalia.

Dewan Keamanan PBB memiliki 15 negara anggota, dan setiap anggotanya memiliki satu suara yang bertanggung jawab untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional.

Dewan tersebut memegang peran utama dalam menentukan adanya ancaman terhadap perdamaian atau tindakan agresi dan dalam kondisi tertentu, DK PBB juga dapat menjatuhkan sanksi atau bahkan memberikan otorisasi penggunaan kekuatan guna menjaga atau memulihkan perdamaian dan keamanan internasional.

Sebanyak 5 negara anggota tetap DK PBB atau disebut P5 merupakan negara dengan hak veto sehingga resolusi atau keputusan DK PBB tidak dapat disahkan.

Baca juga: Sekjen PBB: Serangan AS-Israel ke Iran buat negosiasi nuklir "sia-sia"

Baca juga: Kolombia usulkan markas DK PBB dipindah ke Qatar

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.