WHO sebut 6 dugaan kasus hantavirus di kapal pesiar, 3 orang meninggal

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jenewa (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (4/5) mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan sejumlah negara dan operator kapal pesiar untuk menangani kasus infeksi hantavirus yang teridentifikasi di sebuah kapal di Samudra Atlantik.

Maria Van Kerkhove, pejabat sementara direktur kesiapan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, kepada wartawan via video mengatakan bahwa hingga 4 Mei telah dilaporkan enam kasus dugaan, termasuk tiga kematian.

Satu pasien dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan, sementara dua lainnya masih berada di atas kapal dan diperkirakan akan dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis, katanya. Sekitar 150 orang, termasuk penumpang dan awak, berada di kapal itu.

Kapal tersebut saat ini berada di lepas pantai Tanjung Verde. WHO, bersama otoritas di Tanjung Verde dan Belanda serta operator kapal tersebut, tengah mengatur evakuasi dua pasien ke Belanda, kata Van Kerkhove.

Tidak ada tambahan kasus bergejala yang dilaporkan, meskipun situasi masih dalam pemantauan ketat. Tim medis dari Tanjung Verde membantu penanganan di atas kapal, dan para penumpang diminta tetap berada di kabin mereka sementara proses disinfeksi serta langkah-langkah pengendalian lainnya dilakukan, katanya.

WHO juga mendukung investigasi epidemiologi untuk menentukan sumber paparan serta melakukan pelacakan kontak dan pengujian laboratorium, imbuhnya. Badan dunia tersebut telah mengucurkan dana dari Dana Kontingensi untuk Keadaan Darurat guna mendukung respons itu.

Meski terdapat korban jiwa, risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan dinilai rendah berdasarkan informasi saat ini dan wabah sebelumnya, kata Van Kerkhove.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia. Infeksi biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau melalui urine, kotoran, maupun air liurnya, sementara penularan antarmanusia tergolong jarang.

Pewarta: Xinhua
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.