Wolverhampton Wanderers resmi terdegradasi dari kasta tertinggi Liga Inggris setelah performa tim terus merosot sepanjang musim. Klub berjuluk Wolves tersebut harus menelan pil pahit karena dipastikan terlempar dari persaingan Premier League, seperti dikutip dari Medcom.
Kemerosotan ini memicu kemarahan besar dari para suporter di Molineux Stadium. Mereka menuding pemilik klub, Fosun Group, terlalu berfokus pada pengembangan divisi esports di China hingga menelantarkan kebutuhan teknis tim sepak bola utama.
Gelombang protes suporter terus mengalir deras di sekitar area stadion. Para pendukung merasa hanya dijadikan objek ekonomi setelah adanya kebijakan kenaikan harga tiket kandang, padahal fasilitas stadion dinilai minim perbaikan oleh pihak manajemen.
Kondisi tim yang tidak lagi kompetitif hingga akhirnya jatuh ke kasta bawah menjadi puncak frustrasi para loyalis terhadap kepemimpinan Fosun Group. Mantan Presiden Komisaris Wolves, Jeff Shi, menjadi sasaran kritik utama dalam krisis identitas ini.
Berdasarkan laporan The Athletic, Shi menganggap sektor esports jauh lebih menguntungkan secara bisnis bagi Fosun dibandingkan dengan industri sepak bola. Tekanan masif dari suporter akhirnya memaksa Jeff Shi menanggalkan jabatannya pada Desember lalu.
Posisi tersebut kini telah digantikan oleh Nathan Shi. Namun, kontradiksi prestasi tetap terlihat jelas antara divisi olahraga digital dan pencapaian tim di lapangan hijau selama musim berjalan.
Di saat tim sepak bola terpuruk, divisi Wolves Esports justru menunjukkan taringnya di kancah global, terutama di pasar China. Salah satu pencapaian yang mencolok adalah keberhasilan tim Honor of Kings Wolves menembus Grand Final King Pro League 2025.
Laga final tersebut mencatatkan rekor dunia Guinness setelah dipadati oleh 62.000 penonton di Stadion Bird’s Nest, Beijing. Tiket pertandingan digital tersebut dikabarkan ludes hanya dalam waktu 12 detik saja.
Kontrasnya prestasi antara karakter virtual dan hasil pertandingan nyata membuat suporter merasa identitas emosional klub telah bergeser. Mereka menilai klub kini sekadar menjadi investasi bisnis yang cerdas namun terasa dingin bagi pendukung tradisional.
Visi Bisnis dan Ancaman Krisis Finansial
CEO baru Wolves, Nathan Shi, menegaskan bahwa operasional esports berjalan sebagai entitas terpisah. Menurutnya, divisi tersebut tidak menggunakan sumber daya teknis yang diperuntukkan bagi pengembangan tim sepak bola.
Meski demikian, publik tetap melihat adanya kemiripan dengan kasus Schalke 04 di Jerman. Klub tersebut terpaksa menjual slot tim esports mereka senilai 26,5 juta euro demi menyelamatkan finansial klub setelah mengalami degradasi.
Dikutip melalui The Observer, nilai pasar esports diprediksi akan mencapai angka USD7,5 miliar atau sekitar Rp130 triliun pada tahun 2030 mendatang. Potensi keuntungan yang sangat besar ini menjadi peluang yang sulit dilewatkan oleh investor global.
Bagi para loyalis Wolves, kemenangan di dunia digital tetap tidak mampu menggantikan euforia gol di menit akhir pertandingan sepak bola yang nyata. Kekecewaan ini menjadi catatan kelam bagi perjalanan klub yang kini harus berjuang kembali dari divisi bawah.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·