World Intelligence Expo 2026 soroti integrasi AI-Industri

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Tianjin (ANTARA) - Ajang World Intelligence Expo 2026 resmi dibuka pada Kamis (28/5) di Kota Tianjin, China utara, mempertemukan lebih dari 700 ekshibitor untuk memamerkan berbagai teknologi, produk, dan skenario penerapan mutakhir dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Diselenggarakan bersama oleh pemerintah Kota Tianjin dan Kota Chongqing di China, ajang yang digelar selama empat hari itu mengusung tema "Kecerdasan: Ruang Pengembangan yang Ekstensif, Pendorong Pertumbuhan Berkelanjutan" (Intelligence: Extensive Development Space, Sustainable Growth Driver).

Ajang itu menghadirkan tujuh zona pameran yang mencakup AI berwujud (embodied AI), teknologi inti AI, ekonomi ketinggian rendah, dan eksplorasi antariksa komersial, dengan total luas areanya mencapai 130.000 meter persegi.

Expo ini menarik berbagai perusahaan terkemuka, termasuk perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune Global 500 dan perusahaan domestik teratas dalam sektor AI.

Integrasi industri AI semakin pesat, mendorong peningkatan efisiensi di sektor-sektor tradisional dan menumbuhkan model-model bisnis baru, ujar sejumlah pelaku industri yang menghadiri pameran tersebut.

Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China Ke Jixin menyampaikan kementerian itu akan bekerja sama dengan seluruh pihak untuk mendorong pengembangan industri AI yang berkualitas tinggi, memajukan inisiatif "AI + manufaktur", memperkuat kemampuan inovasi, dan meningkatkan lingkungan industri.

Kepala Administrasi Data Nasional (National Data Administration) China Liu Liehong menyatakan bahwa kumpulan data yang berkualitas tinggi berfungsi sebagai sumber daya teknis dan mesin inovasi bagi peningkatan cerdas dalam bidang manufaktur canggih.

"Kami mendukung para pemimpin industri dan entitas percontohan dalam manufaktur industri untuk membangun kumpulan data industri yang berkualitas tinggi di bidang-bidang utama, termasuk manufaktur otomotif, pembuatan kapal, transportasi berbasis rel (rail transit), logam nonbesi, dan petrokimia," imbuh Liu.

Seiring dengan banyak negara berupaya memperkuat industri-industri melalui AI, China kini secara aktif mendorong kerja sama internasional di bidang tersebut.

"Kami menjadikan AI sebagai prioritas dalam kerja sama teknologi bilateral dan multilateral. Kami akan memperdalam kolaborasi internasional di (bidang) AI dan memperkuat inovasi teknologi dan pembangunan kapasitas," urai Wakil Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Chen Jiachang.

Foto yang diambil pada 28 Mei 2026 ini menunjukkan suasana upacara pembukaan World Intelligence Expo 2026 di Tianjin, China. (Xinhua/Zhao Zishuo)

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk China Hussain bin Ibrahim Al Hammadi menyampaikan ekspektasinya terhadap kerja sama tersebut. Pendekatan China terkait pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat sangat selaras dengan visi UEA dalam membangun ekonomi inovatif dan berbasis pengetahuan yang berfokus pada masa depan, tuturnya.

Dubes itu juga menekankan peluang yang sangat luas terkait kerja sama yang lebih dalam antara China dan UEA di bidang AI, teknologi canggih, dan ekonomi digital.

Meski terdapat persaingan di sektor AI, Presiden Asosiasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China (China Association for Science and Technology) Wan Gang menuturkan bahwa kerja sama yang saling menguntungkan tetap menjadi aspirasi arus utama.

China membagikan pengalamannya dalam penerapan AI, termasuk kota pintar, manufaktur dan pertanian, dengan negara-negara berkembang, melalui penyediaan produk dan layanan yang inklusif untuk membantu mengatasi tantangan bersama.

Kazakhstan merupakan salah satu negara tamu kehormatan di pameran tersebut pada tahun ini. Zhuldyz Serik, manajer senior di Astana Hub, klaster inovasi bagi perusahaan rintisan (startup) teknologi informasi (IT) yang berbasis di Kazakhstan, terlibat dalam diskusi yang antusias dengan perusahaan teknologi China di pameran itu.

"Saya terpukau dengan kemajuan pesat China, terutama di (bidang) kendaraan listrik dan AI. Perusahaan-perusahaan China sangat cakap, dan teknologi di sini berkembang dengan laju yang impresif. Kami secara tulus mengundang perusahaan-perusahaan teknologi China, terutama mereka (yang berkecimpung) di bidang Internet of Things (IoT), teknologi keuangan, teknologi dan perangkat lunak medis, untuk menjajaki peluang kerja sama di Kazakhstan," ujar Serik.

Pameran ini berlangsung hingga Minggu (31/5) mendatang. Selama penyelenggaraan ajang tersebut, lebih dari 200 produk baru, teknologi, pencapaian, dan laporan penelitian akan dirilis, yang mencakup bidang AI berwujud, kendaraan terhubung cerdas, ekonomi ketinggian rendah, manufaktur pintar, dan konsep hidup cerdas (smart living).

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.