Realisasi investasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2026 mencapai sekitar Rp2,01 triliun. Angka ini tercatat sebesar seperlima dari target investasi tahunan pada 2026 sebesar Rp10,48 triliun.
Investasi ini sebagian besar ditopang oleh Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyebut investasi yang masuk ke DIY tidak hanya berasal dari proyek strategis nasional (PSN), tetapi juga sektor lain seperti perhotelan dan pertanian yang cenderung tumbuh lebih moderat.
“Ada yang investasi berkaitan dengan PSN juga iya. Ada yang tadi kan kalau kita lihat kan ada yang diakomodasi yang seperti perhotelan, yang seperti pertanian, dan seperti itu,” kata Made dikonfirmasi Pandangan Jogja usai agenda Rakordal Triwulan I di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kamis (30/4).
“Memang kan tumbuh seperti itu kan tidak begitu cepat. Kecuali dia industri yang sangat kuat,” tambahnya.
Ia menambahkan, capaian investasi saat ini sekaligus menjadi pemicu bagi pemerintah daerah untuk terus mendorong peningkatan realisasi ke depan. Namun, menurutnya, arah kebijakan tetap harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan agar pembangunan tidak berdampak negatif dalam jangka panjang.
“Kalau bicara investasi Ngarso Dalem juga menyampaikan tetap memperhatikan daya dukung, daya tampung lingkungan. Jadi jangan sampai kemudian kita mengabaikan itu. Jadi istilahnya eksploitasi besar-besaran tapi nanti untuk keberlanjutan ke depan itu akan merugikan anak cucu kita,” kata dia.
Selain itu, Pemda DIY juga mencatat masih terdapat 16 dari 17 Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang ditawarkan kepada investor. Beberapa di antaranya seperti Glamping Ngrenehan, Krakal Resort, Gunungkidul Resort, hingga Industri Garmen KPI Candirejo.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·