Liputan6.com, Jakarta - Ghost in the Cell tampil perkasa dengan 3 jutaan penonton. Film karya sineas Joko Anwar ini diperkuat barisan aktor papan atas Tanah Air dari Abimana Aryasatya, Aming, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Morgan Oey, hingga Endy Arfian. Ghost in the Cell menandai kali kedua Morgan Oey berkolaborasi dengan Joko Anwar. Tahun lalu, keduanya bersinergi dalam Pengepungan di Bukit Duri yang mendulang sejuta penonton lebih. Lewat peran Edwin dalam film itu, Morgan Oey untuk kali pertama diganjar nominasi Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2025.
Morgan Oey tak punya alasan menolak saat Joko Anwar menyodorkan peran Bimo dalam Ghost in The Cell. “Yang pasti bisa dilihat, tiap proyek Joko Anwar selalu mengeksplorasi beragam genre dan punya keresahan. Pengepungan di Bukit Duri misalnya, tentang diskriminasi, isu sosial, konflik horizontal juga suara minoritas yang dibungkam. Ghost in the Cell mengusung isu lingkungan dan satir politik. Ini relate, seolah rakyat tinggal di sistem autopilot, serasa terpenjara dalam hidup mereka sendiri,” katanya dalam wawancara eksklusif lewat telepon dengan Showbiz Liputan6.com baru-baru ini.
Morgan Oey menyebut secara teknis, semua aktor punya peran penting dalam Ghost in the Cell. Tak ada peran numpang lewat atau mubazir, termasuk Bimo. Bernama lengkap Bimo Gumira, ia adalah anak tunggal.
Ibunya, Ratna, keturunan Jawa, bekerja sebagai pelayan retsoran di Glodok, Jakarta. Ayah Bimo, Jimmy, keturunan Tionghoa, bekerja sebagai tukang pukul yang berafiliasi dengan mafia. Berikut 6 fakta Morgan Oey membintangi Ghost in the Cell.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·