60 Persen Anak Muda Pilih Swadiagnosis, Pakar Ingatkan Bahayanya

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Fenomena swadiagnostik medis kini semakin marak di tengah masyarakat seiring mudahnya akses informasi kesehatan melalui media sosial dan internet. Banyak orang mencoba menebak penyakit yang dialami hanya berdasarkan gejala yang dirasakan, kemudian membandingkannya dengan informasi dari video pendek, artikel, maupun pengalaman orang lain di dunia maya. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahan penanganan terhadap penyakit yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi memaparkan hasil penelitian tentang Swadiagnotstik di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Studi terbaru dari Health Collaborative Center yang melibatkan 448 responden di kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta menemukan bahwa hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan. Foto: Pradita Utama/ detikFoto

Fenomena swadiagnostik medis kini semakin marak di tengah masyarakat seiring mudahnya akses informasi kesehatan melalui media sosial dan internet. Banyak orang mencoba menebak penyakit yang dialami hanya berdasarkan gejala yang dirasakan, kemudian membandingkannya dengan informasi dari video pendek, artikel, maupun pengalaman orang lain di dunia maya. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahan penanganan terhadap penyakit yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Fenomena swadiagnostik medis kini semakin marak di tengah masyarakat seiring mudahnya akses informasi kesehatan melalui media sosial dan internet. Banyak orang mencoba menebak penyakit yang dialami hanya berdasarkan gejala yang dirasakan, kemudian membandingkannya dengan informasi dari video pendek, artikel, maupun pengalaman orang lain di dunia maya. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahan penanganan terhadap penyakit yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut. Foto: Pradita Utama/ detikFoto

Fenomena swadiagnostik medis kini semakin marak di tengah masyarakat seiring mudahnya akses informasi kesehatan melalui media sosial dan internet. Banyak orang mencoba menebak penyakit yang dialami hanya berdasarkan gejala yang dirasakan, kemudian membandingkannya dengan informasi dari video pendek, artikel, maupun pengalaman orang lain di dunia maya. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahan penanganan terhadap penyakit yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Swadiagnostik medis dapat membuat seseorang merasa yakin terhadap penyakit tertentu tanpa pemeriksaan yang akurat. Padahal, satu gejala bisa mengarah pada berbagai kemungkinan penyakit yang berbeda. Misalnya, sakit kepala tidak selalu berarti kelelahan biasa, tetapi juga dapat menjadi tanda gangguan serius yang memerlukan penanganan dokter. Kesalahan memahami kondisi tubuh justru dapat memperburuk keadaan kesehatan seseorang. Foto: Pradita Utama/ detikFoto

Fenomena swadiagnostik medis kini semakin marak di tengah masyarakat seiring mudahnya akses informasi kesehatan melalui media sosial dan internet. Banyak orang mencoba menebak penyakit yang dialami hanya berdasarkan gejala yang dirasakan, kemudian membandingkannya dengan informasi dari video pendek, artikel, maupun pengalaman orang lain di dunia maya. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahan penanganan terhadap penyakit yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Selain menimbulkan kecemasan berlebih, swadiagnostik juga sering membuat masyarakat mengonsumsi obat secara sembarangan. Banyak orang membeli obat tanpa resep hanya karena merasa memiliki gejala yang sama seperti informasi yang ditemukan di internet. Penggunaan obat yang tidak sesuai dosis maupun jenis penyakit berisiko menyebabkan efek samping, alergi, hingga kerusakan organ apabila dilakukan dalam jangka panjang. Foto: Pradita Utama/ detikFoto