Abbas Araghchi Perkuat Kemitraan Iran dan Rusia Saat Dialog AS Buntu

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan komitmen untuk memperkuat kemitraan dengan Rusia saat bertemu Presiden Vladimir Putin di tengah kebuntuan perundingan dengan Amerika Serikat pada Senin (27/4/2026). Kunjungan ini dilakukan di tengah upaya mengakhiri perang delapan minggu yang melibatkan kedua negara tersebut.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Araghchi menegaskan ketahanan nasional negaranya dalam menghadapi tekanan eksternal selama kunjungannya ke Rusia. Hal ini berkaitan dengan ketegangan yang terus berlanjut di wilayah perairan strategis.

"agresi AS dan akan mampu mengatasinya," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran sebagaimana dikutip kantor berita Nour News.

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Teheran sebelumnya telah memberi sinyal untuk menerima kesepakatan sementara. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan kompensasi penghentian blokade pelabuhan Iran oleh Washington.

Abbas Araghchi juga berencana menyampaikan kepada mediator Pakistan bahwa konflik dapat berakhir jika Amerika Serikat bersedia mencabut blokade angkatan laut. Iran menuntut kerangka hukum baru untuk lalu lintas di selat tersebut dan jaminan keamanan militer di masa depan.

Terkait isu nuklir, pihak Iran menyarankan agar pembahasan tersebut dilakukan pada tahap berikutnya. Namun, Gedung Putih memberikan respons tegas mengenai posisi Amerika Serikat dalam negosiasi ini.

"memegang kendali dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika, tidak pernah mengizinkan Iran untuk memiliki senjata nuklir," ujar Juru Bicara Gedung Putih.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap mempertahankan blokade sampai masalah program atom Iran terselesaikan sepenuhnya. Trump menilai blokade tersebut merupakan instrumen efektif untuk menekan ekspor minyak Iran agar bersedia memberikan konsesi.

Kritik tajam datang dari Eropa mengenai cara Amerika Serikat menangani diplomasi dengan Iran. Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai posisi Washington saat ini cukup sulit di mata para pemimpin Iran.

"dipermalukan" kata Friedrich Merz, Kanselir Jerman.

Pemimpin Jerman tersebut menambahkan bahwa dirinya sulit memahami strategi akhir yang sedang dikejar oleh pihak Amerika. Sementara itu, para analis Timur Tengah berpendapat pembukaan selat sangat mendesak dilakukan demi menurunkan harga bahan bakar dunia.

Sejumlah pemimpin Arab di Teluk Persia dan otoritas Eropa memprediksi proses negosiasi ini akan memakan waktu setidaknya enam bulan. Hingga saat ini, stabilitas ekonomi global masih tertekan akibat penutupan jalur perdagangan minyak tersebut.