ADB: Konflik Timur Tengah Picu Perlambatan Ekonomi Asia, Proyeksi 2026

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik pada tahun 2026. Hal ini dilatarbelakangi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga energi dan gangguan pada rantai pasok global, membuat prospek ekonomi menjadi lebih menantang.

Dikutip dari Money, laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026 yang dirilis ADB mengungkapkan bahwa kawasan Asia dan Pasifik akan mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 5,1% pada tahun 2026 dan 2027. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,4% yang tercatat pada tahun 2025.

Konflik di Timur Tengah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global. Kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai hampir 120 dollar AS per barel pada puncaknya, dari sebelumnya sekitar 70 dollar AS per barel, menjadi salah satu indikasi utama. Kenaikan harga minyak acuan Dubai dan Oman juga mencerminkan adanya gangguan pasokan yang lebih besar, terutama bagi pasar di Asia.

Kondisi ini menempatkan kawasan berkembang Asia dan Pasifik (DAP) dalam posisi rentan. Meskipun keterkaitan perdagangan langsung dengan Timur Tengah terbatas, kawasan ini sangat bergantung pada impor energi dan terhubung erat dengan jaringan perdagangan global. Dampaknya merambat melalui harga energi, biaya logistik, penerbangan, hingga kondisi keuangan global.

ADB juga mencatat bahwa Selat Hormuz menjadi titik kritis. Jalur ini mengangkut lebih dari 25% perdagangan minyak laut global dan sekitar 20% konsumsi minyak serta LNG dunia. Ketika konflik mengganggu jalur tersebut, risiko tidak hanya pada pasokan energi, tetapi juga pada biaya pengiriman, waktu distribusi, dan kepercayaan pasar.

Sebelum eskalasi konflik, kawasan Asia Pasifik menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. ADB mencatat, pertumbuhan ekonomi regional meningkat menjadi 5,4% pada 2025, dari 5,3% pada 2024. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat.

Perlambatan ekonomi mulai terasa pada paruh kedua 2025 seiring melemahnya momentum perdagangan. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya kontribusi ekspor. Konsumsi domestik tetap menjadi motor utama, tetapi investasi dan industri menunjukkan pola yang tidak merata di berbagai negara. Inflasi regional menunjukkan tren penurunan sepanjang 2025 sebelum kembali meningkat menjelang akhir tahun.

ADB memproyeksikan beberapa skenario terkait dampak konflik. Dalam skenario stabilisasi awal, pertumbuhan diperkirakan 5,1% pada 2026 dan 2027. Namun, jika gangguan berlanjut hingga kuartal III 2026, pertumbuhan dapat turun menjadi 4,7% pada 2026 dan 4,8% pada 2027. Dalam skenario krisis yang lebih berat, dampaknya akan jauh lebih signifikan, termasuk kenaikan harga minyak lebih lanjut dan peningkatan inflasi.

Ketidakpastian tetap tinggi dan ADB menegaskan bahwa arah pertumbuhan dan inflasi sangat bergantung pada durasi serta intensitas konflik, di samping perkembangan kebijakan perdagangan global. Kemampuan kawasan dalam merespons guncangan akan menentukan kinerja ekonomi Asia dan Pasifik ke depan.