ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil 5,2 Persen pada 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil pada level 5,2 persen untuk tahun 2026 dan 2027 pada Selasa (14/4/2026). Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,1 persen.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, laporan bertajuk Asian Development Outlook April 2026 menyebutkan bahwa ketangguhan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tensi geopolitik. Konflik di Timur Tengah serta volatilitas harga energi global menjadi tantangan utama yang dihadapi kawasan Asia Pasifik.

"Sinyal tersebut hadir di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, volatilitas harga energi, dan ketegangan perdagangan internasional," kata Juru Bicara Kemenko Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan resmi, Selasa (14/4/2026).

Menurut Haryo, pengakuan lembaga multilateral ini menjadi validasi atas konsistensi kebijakan makroekonomi pemerintah Indonesia. Fokus kebijakan mencakup pemeliharaan permintaan domestik, penguatan fondasi fiskal, serta keberlanjutan reformasi struktural pada pasar keuangan nasional.

Proyeksi pertumbuhan Indonesia sebesar 5,2 persen berada jauh di atas rata-rata subregional Asia Tenggara yang diperkirakan hanya mencapai 4,7 persen pada 2026. ADB mengidentifikasi konsumsi rumah tangga yang kuat dan inflasi terkendali di angka 2,5 persen sebagai pilar utama stabilitas.

Sektor pertanian yang mengalami peningkatan produktivitas serta efek musiman Ramadan dan Idulfitri turut menopang momentum pertumbuhan pada awal tahun ini. Selain itu, pembangunan infrastruktur publik dan partisipasi swasta dalam hilirisasi investasi menjadi faktor pendorong signifikan.

Kemenko Perekonomian mencatat arus masuk Penanaman Modal Asing (PMA) yang solid berperan besar dalam membiayai kesenjangan eksternal. Hal ini sekaligus berfungsi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan ekonomi.

Selain proyeksi pertumbuhan, lembaga indeks global FTSE Russell tetap mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Keputusan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak masuk dalam daftar pengawasan (Watch List) untuk penurunan status pasar modal.

FTSE Russell mengapresiasi kemajuan implementasi delapan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal. Reformasi tersebut meliputi peningkatan transparansi kepemilikan saham hingga penetapan batas minimum free float sebesar 15 persen bagi emiten di bursa.

Pemerintah saat ini tengah mempersiapkan tinjauan kuartalan dari FTSE Russell yang dijadwalkan pada Juni 2026. Tinjauan serupa dari MSCI juga akan dilakukan pada Mei 2026 untuk memastikan daya tahan pasar modal terhadap guncangan eksternal.