Laporan Asian Development Outlook (ADO) yang dirilis pada Senin, 13 April 2026, menyoroti tantangan struktural yang dihadapi pasar kerja Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja formal. Kondisi ini, menurut laporan tersebut, menjadi penghambat utama pertumbuhan produktivitas dan pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang.
Hambatan tersebut ditunjukkan oleh tingginya tingkat pekerjaan informal yang bertahan selama satu dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi, dilansir dari ADB, belum sepenuhnya mampu menerjemahkan peningkatan menjadi kesempatan kerja formal.
Sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh pekerjaan informal, sementara sektor formal menyumbang porsi kecil terhadap total lapangan kerja. Dominasi sektor informal ini membatasi peningkatan produktivitas dan melemahkan perubahan struktural menuju kualitas pekerjaan yang lebih baik.
Distribusi pekerjaan formal juga cenderung terkonsentrasi pada sektor tertentu yang memerlukan pendidikan dan keterampilan yang lebih tinggi. Akibatnya, sebagian besar tenaga kerja masih terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas rendah, terutama di sektor informal.
Laporan ADB juga menekankan keterkaitan erat antara tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Sektor dengan tingkat informalitas tinggi cenderung menyerap tenaga kerja dengan pendidikan rendah. Sebaliknya, pekerjaan formal lebih banyak diisi oleh tenaga kerja berpendidikan tinggi.
Perubahan struktur pekerjaan juga ditandai oleh penurunan permintaan terhadap pekerjaan rutin. Namun, pergeseran menuju pekerjaan bernilai tambah tinggi masih terbatas, yang mencerminkan kendala dalam pengembangan keterampilan.
Struktur ekonomi Indonesia juga menunjukkan proses transformasi struktural belum berjalan optimal. Tenaga kerja masih banyak terserap di sektor dengan produktivitas rendah. ADB menyatakan bahwa perluasan peran kognitif bernilai lebih tinggi masih terbatas, yang mencerminkan keterbatasan dalam sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Dalam konteks transformasi struktural, sektor manufaktur dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja formal. ADB mendorong pemerintah untuk mendukung pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan melalui kebijakan pasar tenaga kerja yang terkoordinasi.
Pemerintah, menurut laporan ini, sebaiknya memprioritaskan perbaikan sistem pencocokan kerja dan sertifikasi tenaga kerja, serta mendorong pekerja untuk bertransisi dari pekerjaan rutin ke pekerjaan non-rutin. Peningkatan akses terhadap pendidikan menengah dan vokasi, termasuk penguatan pendidikan STEM, juga menjadi fokus utama.
“Pemerintah harus terus mendukung pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan melalui kebijakan pasar tenaga kerja yang terkoordinasi,” kata ADB dalam laporannya.
Secara keseluruhan, laporan ADB menunjukkan bahwa upaya memperluas pekerjaan formal membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari reformasi pendidikan dan pelatihan hingga perbaikan iklim investasi.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·