Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada Jumat, 17 April 2026, menyepakati pembagian dividen tunai sebesar USD447.694.220 yang diambil dari hampir seluruh laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini diambil guna memberikan nilai tambah maksimal bagi investor meskipun perseroan mencatatkan penurunan performa keuangan sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis CNBC Indonesia, emiten energi ini membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD447,69 juta pada 2025. Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan sebesar 67 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya, seiring dengan pendapatan usaha yang terkoreksi 9,87 persen menjadi USD1,87 miliar.
Manajemen ADRO menjelaskan bahwa total dividen yang setara dengan 99,96 persen laba bersih tersebut mencakup dividen interim sebesar USD250 juta yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dengan demikian, sisa dana yang akan dibagikan sebagai dividen tunai final kepada pemegang saham adalah sebesar USD197.500.000.
Selain penetapan dividen, perseroan resmi menghentikan program pembelian kembali saham (buyback) tahun 2025 terhitung sejak 16 April 2026. Sekretaris Perusahaan ADRO, Maharani Cindy Opssedha, menyatakan langkah ini dilakukan untuk menghindari tumpang tindih dengan rencana aksi korporasi baru yang telah disiapkan perusahaan.
"Oleh karena itu, Perseroan akan menghentikan pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Perseroan 2025 terhitung sejak tanggal 16 April 2026 agar pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Perseroan 2026 tidak beririsan atau bersamaan dengan periode pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Perseroan 2025," tulis Maharani dikutip dari Liputan6.com.
Dalam keterangan yang sama, pihak manajemen menegaskan bahwa transisi kebijakan ini telah terencana dengan matang untuk mendukung stabilitas perusahaan jangka panjang. Perseroan juga memastikan penghentian program tersebut tidak mengganggu operasional maupun kondisi finansial internal.
"Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham atas rencana pembelian kembali saham Perseroan sesuai dengan ketentuan POJK 29/2023 pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan (“RUPST”) yang akan diadakan pada tanggal 17 April 2026 (“Pembelian Kembali Saham Perseroan 2026”)," jelasnya.
Perseroan kemudian mengumumkan penyesuaian anggaran untuk program buyback saham 2026 menjadi maksimal Rp5 triliun dari rencana awal Rp4 triliun. Penambahan alokasi dana ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga harga saham agar tetap mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
"Perseroan berencana untuk melakukan Pembelian Kembali Saham Perseroan dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun. Pembelian Kembali Saham Perseroan akan dilakukan melalui BEI dan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung setelah tanggal diperolehnya persetujuan rapat umum pemegang saham Perseroan," tulis Manajemen ADRO dilansir Liputan6.com.
Pihak manajemen optimis bahwa penggunaan kas internal untuk aksi korporasi ini tidak akan memberikan dampak buruk terhadap pertumbuhan bisnis di masa depan. Meskipun aset dan ekuitas berpotensi berkurang, langkah ini dinilai memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham.
"Tidak ada dampak yang signifikan atas informasi terkait penghentian Pembelian Kembali Saham Perseroan 2025 ini terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan," pungkasnya.
Melalui hasil RUPST 17 April 2026, sisa laba bersih sebesar USD194.220 atau sekitar 0,04 persen ditetapkan sebagai saldo laba untuk memperkuat struktur permodalan. Perseroan kini tengah menyusun jadwal teknis pembagian dividen final dan pelaksanaan buyback 2026 yang dijadwalkan mulai 18 April 2026.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·