Jakarta (ANTARA) -
Peran anak perempuan dalam keluarga tidak selalu identik dengan sosok penenang atau penjaga keharmonisan. Dalam beberapa kasus, anak perempuan yang dianggap “sulit” justru memiliki peran penting dalam mendorong perubahan dalam keluarga.
Sebagaimana dikutip dari laman Psychology Today pada Rabu waktu setempat, konsep ini merujuk pada apa yang disebut sebagai “porcupine daughter”, yakni anak perempuan yang berani mengungkap hal-hal yang kerap dihindari dalam keluarga.
Mereka sering dinilai terlalu blak-blakan, emosional, atau memicu konflik. Namun, peran tersebut dinilai bukan sekadar menciptakan masalah, melainkan menghadirkan perspektif baru yang dibutuhkan dalam dinamika keluarga.
Baca juga: Pergeseran budaya pola asuh bisa jadikan trauma dengan orang tua
Dalam kajian tentang peran anak perempuan, kontribusi mereka tidak hanya terlihat dari tindakan nyata seperti mengatur atau membantu keluarga, tetapi juga mencakup kerja emosional dan kognitif. Hal ini meliputi kemampuan membaca situasi, mengelola emosi, hingga menjaga relasi antaranggota keluarga.
Konsep kerja emosional ini sejalan dengan pemikiran sosiolog Arlie Hochschild yang menyoroti peran individu dalam mengelola emosi dalam hubungan sosial.
Namun, tidak semua hubungan dibangun melalui upaya menjaga ketenangan. Dalam beberapa situasi, perubahan justru muncul dari keberanian untuk mengganggu pola lama yang tidak sehat.
Baca juga: Cara atasi trauma setelah putus hubungan dengan keluarga
Dalam perspektif teori sistem keluarga yang dikembangkan oleh Murray Bowen, keluarga dipandang sebagai satu kesatuan emosional yang cenderung mempertahankan stabilitas. Ketika muncul ketegangan, anggota keluarga biasanya mengikuti pola yang sudah ada untuk meredakan konflik.
Di sinilah peran anak perempuan yang dianggap “sulit” menjadi penting. Mereka kerap mempertanyakan pola lama, mengungkap konflik yang terpendam, serta mendorong anggota keluarga untuk menghadapi masalah secara terbuka.
Meski sering mendapat penolakan, pendekatan ini dinilai dapat membuka ruang komunikasi yang lebih jujur dan mendalam dalam keluarga.
Baca juga: Dampak positif memiliki keluarga yang harmonis bagi anak dan orang tua
Fenomena ini juga tidak terbatas pada budaya tertentu. Pola serupa ditemukan di berbagai konteks sosial, menunjukkan adanya ekspektasi yang kuat terhadap peran anak perempuan sebagai penjaga keharmonisan keluarga.
Padahal, tidak ada satu cara tunggal untuk menjadi “anak perempuan yang baik”. Sebagian menunjukkan kepedulian melalui kehangatan dan empati, sementara yang lain melakukannya dengan menetapkan batasan dan menyuarakan kebenaran.
Pandangan ini mendorong masyarakat untuk melihat kembali label “anak sulit” yang kerap dilekatkan. Dalam banyak kasus, sikap tersebut justru menjadi upaya untuk menciptakan hubungan keluarga yang lebih sehat dan terbuka.
Baca juga: Psikolog: Komunikasi kunci bangun hubungan positif orang tua dan anak
Baca juga: Psikolog: Kecanduan judi online bisa sebabkan putus hubungan keluarga
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·