Anak Tidak Kurang Apa-Apa

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Generated by AI

Di tengah meningkatnya kebutuhan penitipan anak seiring makin banyaknya orang tua bekerja, daycare kian menjelma sebagai solusi. Ia hadir sebagai jawaban atas keterbatasan waktu, sekaligus simbol modernitas keluarga urban.

Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah kita sedang memastikan anak terawat, atau sekadar memastikan mereka tidak mengganggu ritme hidup kita?

Penelantaran anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita takuti. Ia justru sering muncul dalam bentuk yang kita maklumi.

Di sejumlah kasus, anak di daycare dibiarkan menangis lebih lama dari yang seharusnya. Jadwal makan tidak konsisten. Pengawasan longgar karena satu pengasuh menangani terlalu banyak anak. Ini bukan selalu soal niat buruk, tetapi dalam pengasuhan, dampak tidak pernah menunggu niat.

Namun akan terlalu mudah jika semua kesalahan kita letakkan di pundak daycare. Ruang paling sunyi dari penelantaran justru ada di rumah sendiri. Anak-anak hari ini mungkin tidak kekurangan mainan atau makanan, tetapi tumbuh tanpa percakapan. Gadget menggantikan kehadiran, dan perhatian menjadi sesuatu yang makin jarang.

Psikolog perkembangan anak seperti John Bowlby sejak lama mengingatkan pentingnya kelekatan emosional. Ketika kebutuhan itu diabaikan, dampaknya tidak selalu langsung terlihat—tetapi menetap dalam cara anak memahami hubungan dan kepercayaan.

Dunia digital memperluas spektrum penelantaran. Anak-anak tumbuh di ruang tanpa pagar, berhadapan dengan risiko yang sering tidak disadari orang tua. Ironisnya, semua itu terjadi saat mereka “aman” di dalam rumah.

Kita sering mengira penelantaran hanya milik mereka yang kekurangan. Padahal dalam banyak kasus, ia justru tumbuh di tengah kecukupan. Anak tidak lapar, tidak kotor, tidak kekurangan fasilitas—tetapi kehilangan kehadiran.

Nelson Mandela pernah berkata, “There can be no keener revelation of a society’s soul than the way in which it treats its children.” Cara kita memperlakukan anak adalah cermin peradaban.

Kita tidak selalu gagal memberi. Tapi terlalu sering gagal hadir.

Negara tentu memiliki peran melalui regulasi dan pengawasan, terutama terhadap daycare dan institusi pendidikan. Namun pengawasan pertama dan paling menentukan tetap berada di tangan orang tua dan lingkungan terdekat.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana, tapi tidak nyaman:

Apakah kita benar-benar merawat anak, atau hanya memastikan mereka tidak mengganggu hidup kita?

Di situlah garis antara merawat dan menelantarkan menjadi sangat tipis—dan sering kali, tanpa kita sadari, kita sudah melampauinya.