Analis Jelaskan Penyebab Rupiah Terpuruk ke Rp 17.500-an per Dolar AS

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Kurs rupiah kembali melemah hingga menembus Rp 17.512 per dolar AS sekitar pukul 10.18 WIB, turun 0,56 persen. Pada pukul 12.30 WIB, kurs rupiah masih bertengger di Rp 17.511 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan beberapa faktor penyebab pelemahan rupiah, utamanya diakibatkan aksi jual saham oleh investor asing jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"Kelihatannya dari aksi jual investor asing terutama di pasar saham maupun juga di pasar Surat Utang Negara untuk mengantisipasi perkembangan terkait dengan pertama pengumuman MSCI," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Selasa (12/5).

Myrdal menjelaskan, faktor kedua terkait tensi perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang belum mereda, bahkan terus meningkat yang mengakibatkan penguatan dolar AS. Lalu, para investor asing juga mengantisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini.

Selain itu, adanya faktor permintaan dolar AS di pasar domestik yang tinggi, dia menyebut kemungkinan karena permintaan kebutuhan impor yang meningkat ya terutama impor BBM atau minyak mentah.

"Lalu yang ketiga karena faktor musiman untuk kebutuhan valas domestik untuk transfer ke investor asing dari dividen emiten bursa efek yang kelihatannya ini punya pengaruh juga buat kelemahan rupiah saat ini," jelas Myrdal.

Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menurutnya, kondisi pelemahan kurs rupiah yang terus berlanjut ini perlu diintervensi oleh Bank Indonesia (BI) dan mendorong produktivitas dari struktur ekspor utamanya berbasis komoditas.

Myrdal memperkirakan bahwa jika faktor-faktor tersebut tidak diantisipasi, maka rupiah diprediksi bisa menembus level psikologis baru yakni Rp 17.700 per dolar AS.

"Level resistannya sudah break Rp 17.500, kalau begitu ya kita lihat gap berikutnya nih level psikologis lagi Rp 17.700. Tapi kalau kita lihat misalkan tensi geopolitiknya turun, perangnya juga berakhir, harga minyaknya turun, terus juga dari sisi musim dividennya juga berakhir, kita harapkan rupiah itu bisa kembali ke level di bawah Rp 17.000," tandasnya.

Sementara itu, Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa pergerakan kurs rupiah bisa terus melemah hingga berada di level Rp 17.550 per dolar AS pada pekan ini

"Kemungkinan besar akan kembali menuju di Rp 17.550-an, kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini," tegas Ibrahim.

Ibrahim menuturkan beberapa faktor eksternal yang menyebabkan rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan, yakni perang di Timur Tengah kembali memanas usai AS menolak proposal damai yang dibuat oleh Iran yang dimediatori oleh Pakistan dan Qatar.

"Serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz, artinya bahwa ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas ya walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump. Tapi kita lihat bahwa kenyataannya di lapangan ya AS terus melakukan penyerangan-penyerangan," jelasnya.

Secara terpisah, lanjut dia, Uni Emirat Arab (UEA) juga turut melakukan penyerangan terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

"Ini yang membuat indeks dolar AS kembali lagi mengalami penguatan yang cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah terutama dalam Brent. Kenaikan dari Brent ini berdampak terhadap transportasi dengan biaya yang cukup mahal," tutur Ibrahim

Kemudian dari faktor internal, dia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen (yoy) tidak serta-merta bisa membuat ekonomi membaik dan membuat kurs Rupiah mengalami penguatan.

"Pembentukan dari pertumbuhan ekonomi kuartal I itu adalah dari konsumsi masyarakat kemudian dan belanja negara. Itu yang membuat sehingga tidak berdampak terhadap investasi, walaupun investasi mengalami kenaikan persentasenya sangat kecil sekali," ungkap Ibrahim.

Terakhir, Ibrahim juga melihat para investor masih wait and see atau menunggu pengumuman lanjutan dari MSCI terkait transparansi bursa saham di Indonesia.

"Pasar sedang menunggu release data dari MSCI tentang keputusan MSCI yang menurunkan peringkat saham di Indonesia, nah ini menunggu dalam tiga hari ini yang membuat Rupiah kembali mengalami pelemahan," tutupnya.

instagram embed