Harga minyak dunia melonjak signifikan dan menembus level 100 dolar AS per barel pada Senin (13/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang akan memblokade semua kapal melintasi Selat Hormuz, seperti dilansir dari Money.
Ancaman tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz adalah jalur distribusi minyak vital dunia. Harga minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, naik sekitar 8 persen mencapai 102 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah AS (WTI) juga mengalami penguatan sekitar 8 persen, mencapai level 104 dolar AS per barel. Lonjakan ini terjadi setelah sempat melemah pada perdagangan Jumat sebelumnya.
Donald Trump menegaskan, Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran menjual minyak secara selektif ke negara tertentu. Ia bahkan menyatakan rencana untuk menghentikan seluruh aktivitas kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz, yang akan berlaku mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat.
Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan program “Sunday Morning Futures” di Fox News, dan merupakan respons atas kegagalan perundingan gencatan senjata AS-Iran selama 21 jam di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026).
Menurut Saul Kavonic, Kepala Riset Energi MST Marquee, pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, di mana AS akan memblokir sekitar 2 juta barel per hari aliran minyak terkait Iran melalui Selat Hormuz.
Langkah ini berpotensi memperparah gangguan distribusi minyak global, yang sebelumnya sudah terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat ini.
Dampak ketegangan ini juga merambat ke pasar keuangan, ditandai dengan pelemahan kontrak berjangka indeks saham utama di AS. Dow Jones turun sekitar 1,04 persen, S&P 500 melemah 1 persen, dan Nasdaq turun 1,15 persen, mencerminkan kekhawatiran investor.
Meski kembali naik, harga minyak dunia saat ini masih berada di bawah level tertinggi yang sempat tercapai pada pekan sebelumnya. Saat itu, Trump sempat membatalkan ancaman serangan besar ke Iran dan membuka peluang negosiasi gencatan senjata.
Namun, ketidakpastian terkait kesepakatan damai membuat harga minyak kembali bergerak naik, bahkan kini lebih tinggi dibandingkan posisi awal April.
Di tengah konflik, Iran justru mencatat keuntungan dari aktivitas di Selat Hormuz. Negara tersebut dilaporkan mengenakan tarif hingga 2 juta dolar AS per kapal yang melintas. Ekspor minyak Iran juga tercatat mencapai rata-rata 1,85 juta barel per hari hingga Maret, meningkat sekitar 100.000 barel per hari dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan ditindak tegas.
Kenaikan harga minyak berpotensi langsung dirasakan masyarakat, terutama di Amerika Serikat (AS). Harga bensin rata-rata tercatat mencapai 4,12 dolar AS per galon, naik sekitar 38 persen sejak awal konflik.
Analis dari Middle East Institute, Karen Young, memperkirakan konflik dapat berlangsung lama, sehingga harga minyak sulit turun dalam waktu dekat. Kenaikan harga energi juga berisiko mendorong inflasi lebih luas, termasuk pada harga pangan akibat terganggunya rantai pasok.
Tekanan inflasi diperkirakan akan terasa pada berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk barang yang dijual di ritel besar. Donald Trump juga mengakui potensi harga minyak dan bensin akan tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·