Anggota DPR: Kerja keras buat RI jadi negara kuat hadapi krisis energi

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Posisi Indonesia yang relatif kuat bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan cerdas dalam membaca situasi

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Muhammad Sarmuji menilai posisi Indonesia yang relatif kuat dalam menghadapi krisis energi merupakan hasil kerja keras dan kecermatan pemerintah dalam membaca dinamika global.

"Posisi Indonesia yang relatif kuat bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan cerdas dalam membaca situasi,” kata Sarmuji dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Sarmuji menyatakan Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara paling kuat dalam menghadapi krisis energi global tahun 2026, berdasarkan riset JPMorgan Asset & Wealth Management.

Menurut dia, capaian itu patut diapresiasi, terutama di tengah tekanan geopolitik akibat perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel yang mengguncang stabilitas pasokan energi dunia.

“Situasi global saat ini tidak mudah. Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia dan memicu ketidakpastian harga," ujarnya.

Ia menegaskan capaian tersebut menjadi lebih berarti mengingat Indonesia pada dasarnya masih merupakan negara net importir energi, khususnya minyak.

Karena itu, lanjut Sarmuji, kemampuan bertahan dalam tekanan global menunjukkan adanya kombinasi kebijakan yang tepat antara pengelolaan sumber daya domestik dan strategi mitigasi risiko.

Hal ini sejalan dengan hasil riset JPMorgan Asset & Wealth Management dalam laporan “Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026,” yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling kuat menghadapi krisis energi global, dengan tingkat ketahanan sebesar 77 persen, tepat di bawah Afrika Selatan (79 persen).

Adapun peringkat lengkap negara dengan ketahanan energi tertinggi pertama Afrika Selatan 79 persen; posisi kedua ditempati Indonesia 77 persen; lalu di urutan ketiga ada China 76 persen; di susul Amerika Serikat 70 persen; Australia 68 persen; Swedia 66 persen; Pakistan 65 persen; Rumania 64 persen; Peru 63 persen; Kolombia 60 persen.

Menurutnya ketahanan Indonesia ditopang oleh struktur energi domestik yang cukup solid karena 77 persen kebutuhan energi nasional relatif terlindungi. Komposisinya terdiri dari batu bara sebesar 48 persen, gas 22 persen, serta energi terbarukan sebesar 7 persen.

Sebagai Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi perdagangan, kawasan perdagangan dan pengawasan persaingan usaha, dan BUMN, Sarmuji juga mengingatkan situasi global masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Oleh karena itu, lanjut Sarmuji, pemerintah perlu terus memperkuat bauran energi nasional, mempercepat pengembangan energi terbarukan, serta meningkatkan efisiensi dan ketahanan sektor energi secara menyeluruh.

Ia menegaskan capaian tersebut harus dijaga dan ditingkatkan karena ketahanan energi tidak hanya menyangkut kondisi saat ini, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai risiko di masa depan.

"Pemerintah perlu terus bekerja keras dan cerdas agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga makin mandiri di sektor energi,” katanya.

Baca juga: Menkeu: Debottlenecking jadi reformasi struktural hadapi krisis energi

Baca juga: Kepala BRIN lirik inovasi baru untuk atasi krisis air dan energi

Baca juga: Indonesia dapat perkuat kedaulatan energi baru di tengah krisis global

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.