Banyumas (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah menilai kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" dapat menjadi penggerak wisata budaya sekaligus memperkuat upaya pelestarian seni tradisi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Saat membuka kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Sabtu, Siti mengatakan budaya memiliki peran penting dalam membangun identitas daerah sekaligus menjadi bagian dari ekosistem pengembangan pariwisata.
Menurut dia, pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tersebut juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai kebangsaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda melalui seni tari.
Baca juga: Tari Lengger Banyumas dapat sambutan hangat di Tokyo
"Kami berharap ini menjadi bagian dari kesempatan kita untuk mengembangkan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi yang akan membesarkan dan menghidupkan budaya yang kita miliki," katanya.
Dia mengatakan kegiatan yang memasuki tahun kedua tersebut menunjukkan konsistensi para pelaku seni, budayawan, dan masyarakat dalam merawat budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dia mengapresiasi seluruh penari, kru, dan pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk maestro tari asal Banyumas Rianto, yang menjadi penggagas acara.
Dia berharap seluruh peserta yang akan menari secara bergantian selama 24 jam tanpa henti dapat menjalankan kegiatan dengan sehat dan mampu menorehkan catatan membanggakan bagi Banyumas maupun Indonesia.
Ditemui setelah pembukaan, legislator yang akrab disapa Mbak Erma itu mengatakan "Banyumas Ngibing" merupakan ruang ekspresi bagi talenta seni dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan diikuti penari dari luar negeri, sehingga berpotensi berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional hingga internasional.
Menurut dia, budaya juga memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata, terutama setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan yang menempatkan budaya sebagai bagian dari ekosistem pariwisata nasional.
"Budaya adalah salah satu ekosistem dalam kepariwisataan. Karena itu, budaya harus kita pelihara, kita kembangkan, dan kita hidupkan agar bisa menguatkan pariwisata Indonesia," katanya.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan I Made Dharma Suteja mengapresiasi pelaksanaan "Banyumas Ngibing" karena dinilai telah mencakup berbagai aspek penting dalam pemajuan kebudayaan.
Baca juga: Tari Lengger Banyumas pikat pengunjung di Serbia
Baca juga: KABA Festival 4 akan sajikan tarian tradisi dengan sentuhan baru
Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan unsur pelestarian, juga pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya yang menjadi fondasi dalam menjaga keberlanjutan tradisi.
"Kami sepenuhnya memberi apresiasi yang tinggi kepada Mas Rianto sebagai inisiator kegiatan ini. Menurut kami, kegiatan seperti ini memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi ,karena dilakukan oleh masyarakat lokal," katanya.
Ia mengatakan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan proses pewarisan budaya berjalan dengan baik, sehingga menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi di masa mendatang.
Kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" diikuti penari dari Banyumas maupun berbagai daerah lain yang secara bergantian menampilkan pertunjukan tari selama 24 jam tanpa henti sebagai bentuk perayaan seni dan pelestarian budaya Nusantara.
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·