APTRI Sebut Produksi Molase Cukup untuk Program E10

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyatakan bahwa pasokan molase di dalam negeri sebenarnya memadai untuk mendukung pelaksanaan program E10. Program tersebut merupakan upaya mencampur 90 persen bensin dengan 10 persen bioetanol guna mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.

Dilansir dari Money, Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen menjelaskan bahwa panen tebu nasional yang mencapai 40 juta ton dalam satu tahun mampu menghasilkan sekitar 2 juta kiloliter molase (5 persen) atau setara dengan 500 ribu liter etanol.

“Konsumsi kita kurang lebih 5 juta kiloliter kalau kita itu E10, bisa E10,” kata Soemitro saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Meski demikian, pasokan molase saat ini tidak sepenuhnya dialokasikan untuk pemenuhan sektor energi ramah lingkungan. Komoditas tersebut sebagian juga diserap oleh industri kosmetik.

Kendala lain yang muncul dalam implementasi program ini adalah persoalan harga. Pihak petani tebu menganggap nilai penawaran yang diajukan oleh PT Pertamina (Persero) untuk membeli molase mereka masih terlampau rendah.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor minyak dan gas tersebut diketahui memberikan penawaran harga sebesar Rp 957 per kilogram untuk molase petani. Angka ini berbanding jauh dengan harga yang dipatok oleh pihak eksportir yang mencapai Rp 1.500 per kilogram.

“Hitung-hitungan Pertamina NRE (New & Renewable Energy) waktu itu dengan harga etanol sekarang Pertamina ini ini ini etanol kita ini maaf molases kita bahan baku etanol cuma dihargai di bawah Rp 1.000,” ujar Soemitro.

Berdasarkan catatan dari pihak petani tebu, komoditas molase ini bahkan pernah menyentuh angka penjualan yang cukup tinggi hingga Rp 3.000 per kilogram.

Soemitro menambahkan, kesiapan para eksportir membeli di angka Rp 1.500 per kilogram mengindikasikan bahwa nilai jual komoditas tersebut di pasar internasional jauh lebih tinggi, sehingga pedagang masih bisa meraup keuntungan.

“Eksportirnya kan bukan saya tapi pedagang-pedagang yang mau diekspor tadi pedagang-pedagang mereka ekspor tapi dia beli dari kita kurang lebih Rp 1.400-Rp 1.500 pasti ekspornya di atas itu,” kata dia.

Melalui situasi ini, pihak APTRI mengharapkan adanya kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada petani tebu dengan menetapkan harga beli molase yang lebih kompetitif di pasar domestik.

Menurut pandangan organisasi petani tersebut, perusahaan plat merah semestinya tidak sekadar mengejar profitabilitas materi, melainkan juga harus mampu memberikan dampak sekaligus nilai sosial bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kami ingin molases ini yang kemarin biasanya kita laku Rp 2.500 per kilogram turun menjadi seturun-turunnya saja masih Rp 1.000-Rp 1.200 kemarin itu ada pernah dijual Rp 900, jangan kita itu tidak dihargai apalagi ini pemerintah,” tuturnya.