Arsenal Puncaki Klasemen Liga Inggris Meski Dikritik Paul Scholes

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Arsenal mengukuhkan posisi di puncak klasemen Liga Inggris dengan koleksi 76 poin dari 35 pertandingan hingga Jumat (8/5/2026). Skuad asuhan Mikel Arteta kini memegang keunggulan lima angka atas pesaing terdekat, Manchester City, yang baru melakoni 34 laga setelah ditahan imbang oleh Everton.

Pencapaian ini membawa The Gunners pada peluang besar untuk mengakhiri penantian gelar juara liga selama 22 tahun. Selain persaingan domestik, klub asal London Utara tersebut juga bersiap menghadapi Paris Saint-Germain dalam laga final Liga Champions yang akan digelar di Budapest pada 30 Mei mendatang.

Kendati berada di jalur juara, legenda Manchester United Paul Scholes melontarkan kritik tajam mengenai kualitas permainan Arsenal. Scholes menilai kesuksesan Meriam London musim ini tidak akan dikenang sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.

"Saya menilai mereka bukan tim juara terbaik yang pernah orang-orang lihat. Saya rasa, kita semua tidak akan membicarakan pencapaian itu di tahun-tahun mendatang seperti tim-tim hebat lainnya, seperti Man United," jelas Scholes dilansir dari Sky Sports.

Mantan gelandang tim nasional Inggris tersebut menyoroti kegagalan Arsenal dalam menumbangkan rival-rival utamanya secara langsung di lapangan. Menurut Scholes, kredibilitas sebuah tim hebat diuji melalui kemenangan atas lawan terkuat mereka di klasemen atas.

"Anda harus selalu mengalahkan tim-tim papan atas. Mereka belum kalahkan Man City dan Liverpool, tim-tim terbaik dalam empat-enam tahun terakhir," sambung Scholes dalam laporan asatunews.co.id.

Kritik tambahan diarahkan pada sistem permainan yang diterapkan Arteta, terutama pola distribusi bola dari lini pertahanan. Scholes menganggap pendekatan taktis yang melibatkan kiper David Raya dan para bek tengah cenderung membosankan untuk ditonton oleh pemirsa.

"Saya tidak berpikir mereka adalah juara terbaik yang pernah kita lihat. Saya tidak berpikir kita akan membicarakan tim ini di masa mendatang seperti halnya tim-tim hebat United," kata Scholes dalam podcast Stick to Football dari The Overlap sebagaimana dikutip Goal.com.

Pria yang menghabiskan kariernya di Old Trafford itu menekankan bahwa hiburan merupakan aspek krusial dalam sepak bola yang tidak ia temukan pada skuad Arsenal saat ini. Ia merasa jenuh melihat penguasaan bola terkendali yang dianggap minim aksi menyerang yang eksplosif.

"Anda bisa menang dengan berbagai cara, yang ingin saya katakan adalah, mereka bukanlah tim yang akan saya tonton sepanjang waktu. Kami telah melihat [David] Raya dan para bek tengah hanya bermain dan bermain. Itu membosankan," tegas Scholes.

Perbandingan dengan prestasi masa lalu Manchester United juga menjadi dasar argumen Scholes dalam meragukan kapasitas mental Arsenal. Ia berpendapat bahwa kemenangan di pertandingan krusial melawan tim besar adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pengakuan sejarah.

"Anda tidak selalu harus mengalahkan tim-tim papan atas - mereka belum pernah mengalahkan City dan Liverpool, tim-tim terbaik dalam empat, lima, atau enam tahun terakhir," jelas Scholes.

Scholes menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa dirinya enggan menghabiskan waktu untuk terus mengikuti perkembangan gaya bermain Arsenal. Ia tetap pada pendiriannya bahwa kemenangan saja tidak cukup untuk menyematkan status tim hebat tanpa kualitas hiburan dan dominasi atas rival utama.

"Itulah mengapa saya rasa orang-orang tidak akan menyebut mereka sebagai tim hebat. Saya tahu Anda bisa lolos tanpa memenangkan pertandingan-pertandingan itu, tentu saja bisa, tetapi untuk menjadi tim hebat, Anda harus pergi dan mengalahkan tim-tim ini. Mereka tidak akan mengalahkan City, tidak akan mengalahkan Liverpool, United yang mengalahkan mereka," tutur Scholes.

Sentimen mengenai daya tarik visual permainan ini dipertegas kembali dalam wawancara terpisah yang menunjukkan ketidaktertarikan sang legenda pada perkembangan teknis tim tersebut.

"Anda bisa menang dengan berbagai cara, tapi bagi saya, saya enggan menonton pertandingan mereka terus-menerus," tegas Scholes memungkasi pernyataannya.