Arsenal dijadwalkan bertandang ke markas Atletico Madrid di Stadion Metropolitano pada Kamis, 30 April 2026 dini hari, untuk melakoni laga leg pertama semifinal Liga Champions. Pertandingan ini menjadi misi krusial bagi skuad asuhan Mikel Arteta untuk mematahkan label hampir juara yang melekat setelah tiga musim beruntun finis sebagai runner-up di liga domestik.
Klub asal London Utara tersebut membawa modal kemenangan tipis 1-0 atas Newcastle United guna meredakan tekanan pasca performa fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Sejauh ini, The Gunners baru sekali mencapai final Liga Champions pada 2006, namun harus mengakui keunggulan Barcelona di partai puncak tersebut.
Gelandang Arsenal, Declan Rice, menyatakan bahwa timnya telah memiliki kesiapan mental yang cukup berkat pengalaman bertanding di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Ia optimistis timnya mampu menghadapi tantangan besar di ibu kota Spanyol tersebut.
"Kami sudah bermain di banyak laga besar dalam tiga atau empat tahun terakhir, jadi kami tahu apa yang akan dihadapi," ucap Rice kepada media.
Pemain asal Inggris tersebut menekankan pentingnya bagi para pemain untuk menikmati momen semifinal ini sebagai bagian dari perjalanan bersejarah klub. Rice berharap rekan-rekannya tetap fokus meski dihantui catatan kegagalan di kompetisi Eropa musim-musim sebelumnya.
"Ini bagian dari perjalanan kami musim ini. Kami sudah di semifinal Liga Champions, nikmati saja dan hadapi," tegas Rice.
Kekhawatiran Arsenal kini tertuju pada kondisi kebugaran Eberechi Eze dan Kai Havertz yang diragukan tampil akibat masalah cedera. Eze menjadi pemain kunci musim ini dengan koleksi 10 gol dan peran vital dalam kreativitas serangan tim.
"Itu memang tugasnya di tim ini. Saya sudah bilang beberapa minggu lalu, kemampuan tembakannya luar biasa. Dia pemain hebat. Kami sangat membutuhkannya di momen seperti ini," tambah Rice dilansir dari Mediaindonesia.com.
Di kubu lawan, Diego Simeone telah mentransformasi Atletico Madrid sejak 2011 dengan meraih delapan trofi termasuk dua gelar La Liga. Meski sering dikritik karena gaya permainan defensif, Simeone berhasil membawa Rojiblancos kembali ke semifinal Liga Champions untuk keempat kalinya.
Setelah memastikan gelar juara liga pada musim 2013-14 dengan hasil imbang melawan Barcelona, Simeone sempat mengungkapkan rasa syukur atas dedikasi para pemainnya di tengah dominasi klub besar lain.
"Ini luar biasa, kegembiraan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hari ini akan menjadi salah satu hari terpenting dalam sejarah klub," kata Simeone dikutip dari Goal.com.
Pelatih asal Argentina itu selalu menekankan bahwa kesuksesan Atletico dibangun di atas etos kerja yang keras dan kepercayaan kolektif dari seluruh elemen klub.
"Saya ingin berterima kasih kepada para pemain dan orang-orang yang selalu percaya pada kami. Tidak ada yang bisa menggantikan kerja keras," ujar Simeone.
Mantan penyerang Atletico, David Villa, mengenang ketangguhan mental skuad Simeone yang tidak pernah menyerah meski dalam kondisi tertinggal atau kekurangan pemain kunci. Ia menyebut sang pelatih sebagai pusat inspirasi tim.
"Tim ini tidak pernah menyerah," kata Villa.
Villa menjelaskan bahwa semangat pejuang yang ditanamkan Simeone menjadi kunci keberhasilan tim menghadapi berbagai situasi sulit di lapangan hijau.
"Kami memulai dengan segala hal yang tidak menguntungkan, tetapi tim merespons dan kami bermain seperti yang kami lakukan sepanjang musim. Kami adalah sekelompok pejuang," pungkas Villa.
Eks Direktur Olahraga Atletico, Andrea Berta, turut menggarisbawahi bahwa kesuksesan pemain di bawah asuhan Simeone sangat bergantung pada kekuatan mental. Tanpa itu, bakat teknis saja tidak cukup untuk bertahan di skema permainan Atletico.
"Bakat itu penting," kata Berta.
Menurutnya, setiap pemain yang bergabung harus mampu beradaptasi dengan standar intensitas tinggi yang ditetapkan oleh pelatih berjuluk Cholo tersebut.
"Tapi tanpa mentalitas yang tepat untuk bermain di bawah asuhan Diego, seorang pemain tidak akan bisa sukses di Atletico," tegas Berta.
Gelandang senior Koke menjelaskan bahwa strategi Atletico memang sering kali membiarkan lawan menguasai bola untuk menciptakan peluang melalui serangan balik yang mematikan.
"Kami memanfaatkan serangan balik," kata Koke kepada ESPN.
Pendekatan taktis ini terbukti efektif dalam meredam dominasi tim-tim besar yang mengandalkan penguasaan bola tinggi di kompetisi Eropa.
"Kami bertahan, kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang rendah. Kami mendominasi tanpa bola," jelas Koke.
Menyadari perkembangan sepak bola modern yang semakin cepat, Simeone mengakui bahwa dirinya terus berupaya memperbarui metode kepelatihannya agar tetap kompetitif di level tertinggi.
"Saya memikirkan Godin dan generasi itu," kata Simeone kepada Gazzetta dello Sport.
Ia menyadari bahwa gaya permainan statis di masa lalu kini lebih mudah dipatahkan oleh kecepatan transisi lawan di era sekarang.
"Saat ini, mereka akan kewalahan dengan cara mereka bermain. Semuanya jauh lebih cepat dan saya juga harus memperbarui metode saya sebagai pelatih," aku Simeone.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·