AS dan Iran Pertimbangkan Kembali Perundingan Gencatan Senjata

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Pada 15 April 2026, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan perundingan tatap muka baru. Tujuan perundingan adalah membahas perpanjangan gencatan senjata. Langkah ini diambil setelah perundingan sebelumnya yang diadakan di Islamabad gagal menghasilkan terobosan, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Target utama dari perundingan baru ini adalah untuk memulai pembicaraan sebelum gencatan senjata dua minggu yang diumumkan pada 7 April berakhir pada minggu depan. Beberapa opsi lokasi sedang dipertimbangkan, termasuk kemungkinan kembali ke Islamabad atau lokasi alternatif lainnya.

Hingga kini, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum mengeluarkan pernyataan resmi. Akan tetapi, menurut laporan CNN pada 13 April, para pejabat Gedung Putih sedang membahas kemungkinan pertemuan lanjutan. Selain itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengindikasikan upaya penyelesaian masalah antara AS dan Iran masih berlangsung.

Presiden Donald Trump sendiri mengisyaratkan keterbukaan untuk kembali berdialog. Trump mengklaim bahwa pihak Iran telah menghubungi AS. Di saat yang sama, Trump tetap melanjutkan rencana blokade angkatan laut di Selat Hormuz sebagai upaya meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan di Teheran.

"Kami telah dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, orang-orang yang berwenang, dan mereka ingin mengupayakan sebuah kesepakatan," kata Trump, tanpa menjelaskan siapa yang terlibat dalam percakapan tersebut.

Selain Pakistan, pejabat dari Turki dan Mesir juga dikabarkan terlibat dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik. Hal ini mengindikasikan kemungkinan pertemuan berikutnya akan dilaksanakan di salah satu dari kedua negara tersebut.

Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance kembali dari Islamabad tanpa hasil setelah negosiasi yang berlangsung selama satu hari gagal mencapai kesepakatan. Trump dan Vance menyalahkan kegagalan tersebut pada penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya. Iran, di sisi lain, menyalahkan tuntutan AS yang dianggap berlebihan, meskipun mereka menyatakan tetap membuka pintu dialog.