AS Tinggalkan Perundingan Nuklir Iran usai Gagal Capai Kesepakatan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Amerika Serikat (AS) resmi meninggalkan perundingan damai dengan Iran. Keputusan tersebut diambil setelah kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan mengenai komitmen pengembangan senjata nuklir, demikian pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance pada Minggu (12/4/2026) dini hari di Pakistan.

Vance menjelaskan, perundingan berlangsung selama 21 jam dengan diskusi substansif, namun tanpa hasil konkret. "Kami telah berunding selama 21 jam dan melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan," ujar Vance, dikutip dari Money.

Menurut Vance, titik krusial kegagalan adalah keengganan Iran menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir. Ia menekankan, AS membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengejar atau secara cepat mampu mencapai senjata nuklir. Syarat tersebut merupakan tujuan utama Presiden Donald Trump dalam negosiasi, namun tidak diterima oleh Iran.

Selama proses negosiasi, Vance mengaku berkomunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper. Ia didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Pemerintah AS telah mengajukan proposal final yang disebut sebagai penawaran terbaik mereka. "Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah kerangka kesepahaman yang menjadi penawaran final dan terbaik kami. Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya," tambah Vance.

Media pemerintah Iran menyebut adanya perbedaan tajam dalam negosiasi, termasuk permintaan pemindahan material nuklir ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kantor berita Tasnim menganggap tuntutan AS "berlebihan" dan menjadi penghalang kesepakatan.

Perundingan ini berakhir beberapa hari setelah gencatan senjata dua pekan diumumkan, yang saat ini masih dalam kondisi rapuh. Pernyataan Vance tidak menjelaskan langkah selanjutnya setelah periode gencatan berakhir.

Delegasi Iran, dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, juga membahas kelanjutan gencatan senjata dengan AS dan Pakistan. Namun, upaya tersebut terhambat oleh perbedaan sikap dan eskalasi serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, yang telah menyebabkan lebih dari 2.000 korban tewas, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Situasi keamanan di Selat Hormuz juga memanas, dengan dua kapal perang AS melintasi jalur tersebut untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai. CENTCOM menyatakan kapal-kapal tersebut menjalankan misi pembersihan ranjau laut yang dipasang Iran. Dua kapal perusak, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, telah beroperasi di Teluk Arab.

Laksamana Brad Cooper menyatakan, "Kami telah memulai proses pembentukan jalur pelayaran baru dan akan segera membagikan rute aman ini kepada industri maritim untuk mendorong kelancaran arus perdagangan." Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi di selat tetap berjalan, "Kami sedang menyapu selat tersebut. Tercapai atau tidaknya kesepakatan tidak membuat perbedaan bagi saya."

Sebelumnya, media Iran melaporkan kapal militer AS dipaksa berbalik arah saat melintasi selat, dengan Garda Revolusi Iran memperingatkan akan memberi respons keras terhadap kapal militer. Hanya kapal nonmiliter yang diizinkan melintas dengan syarat tertentu.

Meskipun pejabat AS membantah laporan mengenai persetujuan pelepasan aset Iran yang dibekukan, data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker raksasa mulai melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026). Pergerakan ini mengindikasikan pemulihan awal arus keluar kapal dari kawasan Teluk. Selat Hormuz adalah jalur strategis bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.