Jakarta (ANTARA) - Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, para pemimpin Asia Tenggara berkumpul di Cebu, Filipina, dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48.
Cebu dipilih bukan semata-mata sebagai lokasi penyelenggaraan, tetapi juga karena sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan dan pintu masuk penting Filipina sejak masa pra-kolonial.
Sejak lama, Cebu dikenal sebagai titik pertemuan perdagangan, budaya, dan hubungan antarbangsa di Asia Tenggara. Pemilihan kota ini sekaligus menjadi pengingat akan peran strategisnya dalam perjalanan ASEAN.
KTT ASEAN kali ini berlangsung di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi yang membayangi kawasan, mulai dari dampak perang Amerika Serikat-Iran terhadap rantai pasok global, isu keamanan energi dan pangan, hingga persaingan kekuatan besar dunia yang memengaruhi stabilitas regional.
Situasi tersebut kembali menempatkan ASEAN pada posisi penting untuk memperkuat kerja sama dan menjaga soliditas antarnegara anggota. Di tengah tantangan yang dihadapi masing-masing negara, forum ini menjadi ruang untuk menyatukan langkah menghadapi ketidakpastian global secara bersama-sama.
Pertemuan di Cebu juga mengingatkan kembali pada momen penting dua dekade lalu, ketika para pemimpin kawasan berkumpul di kota ini untuk menyusun fondasi penguatan kelembagaan ASEAN melalui Deklarasi Cebu, yang kemudian menjadi pijakan lahirnya Piagam ASEAN pada 2007.
Tema yang diusung Filipina untuk KTT ASEAN 2026, “Navigating Our Future, Together”, turut menggambarkan upaya kawasan dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Tema tersebut menekankan bahwa kekuatan ASEAN terletak pada kebersamaan untuk membangun masa depan yang damai, sejahtera, dan berpusat pada masyarakat.
Tema itu juga mencerminkan visi ASEAN yang lebih terbuka terhadap inovasi, mampu memanfaatkan keberagaman kawasan, serta siap menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Secara keseluruhan, logo dan tema ASEAN 2026 menjadi simbol ajakan bagi negara-negara Asia Tenggara untuk bergerak bersama menuju kawasan yang damai dan sejahtera.
Selain Filipina, ASEAN saat ini beranggotakan Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, serta Timor Leste yang resmi menjadi anggota ke-11 pada Oktober lalu.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan KTT ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi dan diplomasi regional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto melalui “diplomasi peci hitam” mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus menjaga peran strategisnya sebagai salah satu pilar utama ASEAN dalam mendorong stabilitas dan kerja sama kawasan.
Baca juga: ASEAN revisi piagam untuk pertama kalinya setelah hampir 20 tahun
Baca juga: Prabowo tegaskan ASEAN harus jadi teladan perdamaian dunia
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·