Negara-negara anggota ASEAN menyerukan kepada Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk melanjutkan perundingan guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Desakan ini disampaikan pada Senin, 13 April 2026, beberapa jam sebelum Angkatan Laut AS berencana melakukan blokade di pelabuhan Iran. Selain itu, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama.
Negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Malaysia sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, yang sebagian besar diekspor melalui Selat Hormuz. Selat tersebut telah ditutup selama konflik AS-Israel dengan Iran.
Para menteri luar negeri dari 11 negara anggota ASEAN mengadakan pertemuan daring untuk membahas situasi ini. Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan blokade jalur perdagangan minyak utama melalui laut setelah negosiasi antara AS dan Iran gagal di Pakistan.
Para menteri luar negeri ASEAN sepakat untuk mendesak AS dan Iran agar "melanjutkan negosiasi yang akan mengarah pada pengakhiran konflik secara permanen dan perdamaian serta stabilitas yang langgeng di kawasan tersebut".
Mereka juga menyerukan "implementasi penuh dan efektif" dari gencatan senjata yang sedang berlangsung. Selain itu, mereka mendesak "pemulihan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di Selat Hormuz".
Menurut Badan Energi Internasional, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melalui laut melewati Selat Hormuz, dengan 80 persen di antaranya menuju pasar Asia, dilansir dari Detikcom.
Filipina, yang memegang jabatan ketua bergilir ASEAN, telah menerapkan sistem kerja empat hari seminggu untuk pegawai negeri sipil dalam upaya penghematan bahan bakar. Sementara itu, Malaysia, Thailand, dan Vietnam mendorong pegawai negeri untuk bekerja dari rumah.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·