Astra Ungkap Pelemahan Rupiah ke Rp 17.300 Bikin Ongkos Produksi Naik

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Ilustrasi Astra International. Foto: Piotr Swat/Shutterstock

Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII) Rudy mengungkapkan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama yang berkaitan dengan bahan baku. Hal ini disampaikan menyusul tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.304 per dolar AS pada pukul 10.33 WIB, Kamis (23/4).

“Pelemahan rupiah tentu akan berdampak ke ongkos produksi kita,” ujar Rudy, saat konferensi pers usai RUPST 2026 di Menara Astra, Jakarta, Kamis (23/4).

Rudy menjelaskan, dampak pelemahan rupiah terasa pada sektor otomotif, mengingat sebagian bahan baku masih terpengaruh oleh pergerakan nilai tukar.

“Karena kita tahu bahwa kita memang, kalau di mobil itu ada di raw materialnya itu kan terpengaruh juga,” lanjutnya.

Meski demikian, Rudy menilai Astra memiliki daya tahan yang relatif lebih baik dalam menghadapi tekanan tersebut. Ditopang ekosistem bisnis yang terintegrasi di dalam grup.

“Tapi untungnya kita punya ekosistem yang cukup lengkap, distribusi, detail dan sebagainya, sehingga ketahanan kita lebih tinggi, karena kita bisa mem-balance satu sama lain,” katanya.

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor global, termasuk konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

instagram embed