Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan saat ini pemerintah mencari alternatif pasokan LPG yang terganggu akibat perang di Iran. Salah satu alternatif yang saat ini sedang dalam pembahasan adalah Compressed Natural Gas (CNG).
CNG merupakan salah satu bahan bakar gas bumi yang dikompresi (metana) dengan tekanan tinggi, yang dimanfaatkan sebagai energi bersih alternatif untuk transportasi, dan industri.
“Nah, alternatif ketiga, sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG,” kata Bahlil di Istana Negara, Senin (27/4).
Menurut Bahlil, pasokan CNG lebih mudah didapatkan dari dalam negeri. Gas cair C1-C2 merujuk pada gas alam (natural gas) yang didominasi oleh komponen metana (C1) dan etana (C2) yang telah dicairkan untuk mempermudah penyimpanan dan transportasi.
“Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya," kata Bahlil.
"Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, CNG bukanlah hal baru di Indonesia. Bahlil menjelaskan saat ini CNG juga sudah digunakan untuk beberapa sektor termasuk perhotelan dan restoran.
“Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai [CNG]. Sebagian SPBG [Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas] sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri,” kata Bahlil.
Sebelumnya, harga LPG nonsubsidi naik nyaris 19 persen per 18 April 2026. Harga baru ini berlaku pada tabung Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg seiring dengan naiknya harga minyak mentah dan gas karena perang.
Berdasarkan laman Pertamina Patra Niaga, harga terbaru LPG 5,5 kg untuk wilayah DKI dan Jawa Rp 107.000 per tabung, naik Rp 17.000 jika dibandingkan harga terakhir kali pada November 2023 Rp 90.000 (18,89 persen).
Sementara harga LPG 12 kg naik Rp 36.000 dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 per tabung. Kenaikannya mencapai 18,75 persen.
Selain di DKI Jakarta dan Jawa, harga LPG 5,5 kg ada 12 kg lebih mahal lagi. Misalnya, di Provinsi Aceh hingga Kepulauan Riau naik menjadi Rp 111.000 dan Rp 230.000 per tabung.
Di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sulawesi masing-masing menjadi Rp 114.000 dan Rp 238.000 per tabung. Termahal ada di Maluku dan Papua yang dijual Rp 134.000 dan Rp 285.000 per tabung.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·