Bank Indonesia Siapkan Lima Langkah Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Bank Indonesia menyiapkan lima strategi demi menjaga pertumbuhan ekonomi domestik tetap stabil setelah adanya keputusan penaikan suku bunga acuan menjadi sebesar 5,25 persen pada Mei 2026.

Langkah awal yang ditempuh otoritas moneter tersebut berfokus pada upaya mempertahankan kelonggaran likuiditas di pasar uang dan industri perbankan nasional, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

“Kami kenapa ini membeli SBN dari pasar sekunder agar memastikan likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup bagi bank untuk menyalurkan kredit dan meminimalkan dampaknya terhadap kenaikan suku bunga baik di deposito maupun di kredit,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu (20/5/2026).

Strategi kedua berupa peningkatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk sektor strategis yang nilainya menyentuh Rp424,7 triliun hingga Mei 2026 demi memacu penyaluran kredit.

Alokasi dana makroprudensial tersebut mengalir ke Bank BUMN sebesar Rp214,2 triliun, bank swasta senilai Rp171,1 triliun, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp30,6 triliun.

“Dari kebijakan makroprudensial longgar memberikan insentif likuiditas kepada bank-bank yang menyalurkan kredit dan menurunkan suku bunga yang menjaga suku bunga kreditnya tetap rendah,” kata Perry Warjiyo.

Pada langkah ketiga, Bank Indonesia memperlebar jangkauan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) di mana perbankan wajib memelihara rasio intermediasi pada kisaran 84 persen sampai 94 persen.

“Kami mendorong pemenuhan 84% sampai 94%ini adalah memperluas cakupannya dari sisi liabilities atau funding, kami memperluas cakupannya tidak hanya dana pihak ketiga yang tradisional ya rekening giro, tabungan deposito, tapi juga penerbitan sekuritas surat berharga, baik konvensional maupun syariah,” jelas Perry Warjiyo.

Upaya keempat diwujudkan lewat kerja sama erat bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), KSSK, dunia usaha, serta perbankan melalui perantara Program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI).

“Kami bersinergi, erat dengan pemerintah, perbankan, dunia usaha untuk mengatasi permasalahan baik dari sisi penawaran perbankan maupun permintaan dunia usaha untuk sektor-sektor tentu saja dari sektor ke sektor apa yang dilihat perbankan masalahnya apa yang dilihat oleh Dunia Usha kami bersinergi untuk mengatasi itu,” kata Perry Warjiyo.

Adapun langkah kelima dijalankan dengan memacu digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran nasional melalui perluasan layanan QRIS serta akselerasi pembentukan Usaha Digital Wirausaha (PIDI).

Bank Indonesia memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 akan berada pada rentang 4,9 persen hingga 5,7 persen.