Bank Jago Catat Pertumbuhan Kredit Digital Dua Digit Awal 2026

Sedang Trending 2 jam yang lalu

PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan tren positif pada sektor pembiayaan melalui layanan digital lending pada aplikasi Jago yang terus mengalami pertumbuhan hingga kuartal I-2026. Capaian kinerja ini didorong oleh tingginya minat nasabah dalam mengakses pinjaman untuk berbagai keperluan produktif maupun mendesak pada Jumat (17/4/2026).

Head of Digital Lending Business Bank Jago, Irene Santoso, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan sektor ini menunjukkan angka yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Dilansir dari Money, kenaikan penyaluran kredit tersebut mencapai angka di atas sepuluh persen pada awal tahun ini.

"Memang pertumbuhan cukup bagus, iya (double digit)," kata Irene Santoso, Head of Digital Lending Business Bank Jago.

Meskipun performa dinilai memuaskan, manajemen belum merilis rincian total angka penyaluran kredit digital maupun persentase pertumbuhan secara spesifik. Irene mengungkapkan bahwa dana pinjaman yang ditarik oleh nasabah mayoritas dialokasikan untuk membiayai renovasi hunian serta pemenuhan dana pendidikan.

"Orang itu mengambil (pinjaman) bukan hanya sekadar untuk mengambil, tetapi ada tujuannya mengambil loan itu," imbuh Irene Santoso.

Strategi pembiayaan Bank Jago saat ini masih difokuskan secara eksklusif bagi para pengguna aplikasi mereka sendiri. Penentuan batas pinjaman atau plafon dilakukan melalui analisis profil risiko serta kemampuan finansial masing-masing individu untuk menjaga kualitas kredit.

"Dicocokkan dengan profil mereka, kebutuhan mereka, dan kemampuan pembayaran," terang Irene Santoso.

Fasilitas pinjaman yang tersedia menawarkan limit hingga Rp 100 juta dengan masa tenor maksimal selama 24 bulan. Layanan ini dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan dana darurat yang memerlukan penanganan cepat bagi nasabah yang memiliki akses limit tersebut.

Irene menekankan fleksibilitas layanan ini, di mana nasabah yang melunasi pinjaman lebih awal saat memiliki dana tidak akan dibebankan biaya tambahan atau penalti. Hal ini menjadi pembeda utama dengan karakteristik produk pinjaman konvensional lainnya.

"Kita lihat tujuannya si tercapai ya kalau kita lihat untuk penggunaan loan, jadi agak beda sama KTA (Kredit Tanpa Agunan) yang biasanya ambil sekali terus sudah. Jadi disesuaikan dengan kebutuhannya," tutup Irene Santoso.

Berdasarkan data internal perusahaan, ekosistem Bank Jago telah menjangkau 18,2 juta nasabah hingga akhir tahun 2025, termasuk 14,2 juta pengguna aplikasi funding. Angka tersebut menunjukkan ekspansi yang stabil dari total 15,3 juta nasabah pada tahun sebelumnya.

Dari sisi intermediasi, Bank Jago telah menyalurkan total kredit sebesar Rp 24,3 triliun hingga penutupan tahun 2025. Perolehan tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 38 persen jika dibandingkan dengan posisi penyaluran tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 17,7 triliun.