Barantin gandeng Kanada perkuat keamanan pangan ASEAN

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bekerja sama dengan Kanada memperkuat sistem keamanan pangan di kawasan ASEAN melalui peningkatan kapasitas laboratorium dan kolaborasi antarnegara.

Kepala Barantin Sahat M. Panggabean mengatakan penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Food Safety Laboratory Management Workshop atau lokakarya manajemen laboratorium keamanan pangan sebagai bagian dari CanSafe Project fase pertama.

“Keamanan pangan menjadi isu strategis di kawasan ASEAN, baik dalam perdagangan intra-regional maupun dalam pemenuhan kebutuhan pangan dari luar kawasan.Tantangan global seperti cemaran pangan, termasuk antimicrobial resistance (resistensi antimikroba/AMR), memerlukan penguatan sistem pengujian laboratorium yang andal dan terstandar,” kata Sahat berdasarkan keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama ASEAN dan Kanada dalam kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), khususnya pada aspek Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS).

Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat sistem perdagangan yang tetap mengedepankan perlindungan kesehatan manusia, hewan, ikan, dan tumbuhan serta kelestarian lingkungan.

Sahat menegaskan laboratorium keamanan pangan memiliki peran penting dalam memastikan setiap kebijakan berbasis data ilmiah yang akurat, dapat ditelusuri, serta memenuhi standar manajemen laboratorium.

“Penguatan kapasitas manajemen laboratorium, penerapan standar internasional, serta peningkatan kompetensi analis menjadi kunci dalam membangun sistem keamanan pangan yang tangguh,” ujarnya.

Ia menegaskan Barantin terbuka terhadap kerja sama ilmiah di bidang biosekuriti guna mendukung sistem keamanan pangan yang berkelanjutan.

Sementara itu, perwakilan Kanada melalui Agricultural Counsellor Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia Jasmine Lebelle menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut.

“Kanada bangga dapat bermitra dengan ASEAN, termasuk Indonesia, dalam memperkuat sistem keamanan pangan. Melalui inisiatif seperti CanSafe Project, kami mendorong pertukaran keahlian dan praktik terbaik guna memastikan sistem laboratorium yang kuat, transparan, dan berbasis standar internasional,” ucap Lebelle.

Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (23/4) tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Canadian Food Inspection Agency (CFIA), Indo-Pacific Agriculture and Agri-Food Office (IPAAO), Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI), Sekretariat ASEAN, serta delegasi negara anggota ASEAN.

Dalam kesempatan yang sama, Executive Director Indo-Pacific Agriculture and Agrofood Diedrah Kelly juga turut hadir dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan keamanan pangan global.

Lebih lanjut, Barantin berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta memperkuat sistem keamanan pangan regional untuk mendukung kelancaran perdagangan global tanpa mengabaikan aspek perlindungan kesehatan.

Baca juga: Barantin: Implementasi sistem e-Phyto RI jadi rujukan Kamboja

Baca juga: Barantin luncurkan Finquest percepat pembangunan karantina

Baca juga: Karantina Kalsel gagalkan pemasukan bibit anggrek dan aglaonema ilegal

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.