Belum Dewasa, Belum Dianggap Manusia: Potret Krisis Egalitarianisme Sosial

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Antrean anak-anak dan dewasa. Gambar oleh Siska Vanhooren dari Pixabay.

Seorang anak kecil berdiri rapi dalam antrean. Ia datang lebih dulu, menunggu dengan sabar, mengikuti aturan yang pernah ia ketahui dari orang tua atau bahkan gurunya di sekolah. Lalu datang seseorang yang lebih tua. Tanpa banyak pikir, ia melangkah ke depan, memotong barisan. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang protes. Semua diam—atau lebih tepatnya, semua maklum. Seolah-olah, menjadi lebih tua adalah alasan yang cukup untuk didahulukan.

Pertanyaannya sederhana:

Sejak kapan usia menjadi legitimasi untuk melanggar aturan yang sama?

Fenomena ini mungkin tampak sepele. Hanya antrean. Namun dari momen kecil inilah kita bisa melihat sesuatu yang lebih dalam: cara kita, sebagai masyarakat, memandang siapa yang benar-benar “dianggap manusia.”

Refleksi Potret Krisis Egalitarisme Sosial di Negeri Kita

Pada banyak ruang sosial di Indonesia, menjadi “dewasa” tampak seperti syarat tidak tertulis untuk diakui sepenuhnya. Orang-orang yang lebih tua dihormati dan itu baik. Namun dalam praktiknya, penghormatan ini sering melampaui batasnya. Ia tidak lagi sekadar etika, tetapi berubah menjadi keistimewaan atau privilege. Sementara itu, yang lebih muda sering ditempatkan dalam posisi menunggu: menunggu dianggap cukup tahu, cukup layak, cukup pantas untuk didengar.

Seakan-akan fase untuk menjadi manusia yang diterima oleh masyarakat itu bertahap. Seakan-akan pula seseorang belum sepenuhnya menjadi manusia sebelum mencapai usia tertentu. Padahal, martabat manusia tidak pernah bekerja seperti itu.

Budaya hormat kepada yang lebih tua memang memiliki nilai yang penting. Ia mengajarkan sopan santun dan penghargaan terhadap pengalaman. Namun dalam banyak situasi, nilai ini mengalami pergeseran. Hormat berubah menjadi sebuah pembungkaman. Senioritas berubah menjadi otoritas yang tidak bisa dipertanyakan. Akhirnya dalam kondisi ini, yang lebih tua tidak lagi sekadar dihormati, mereka menjadi kebal terhadap standar yang sama yang berlaku bagi orang lain.

Lebih jauh, kita melihatnya bukan hanya di antrean. Di sebuah forum diskusi, pendapat anak muda sering kali dipotong dengan alasan “kurang pengalaman.” Di organisasi, mereka ditempatkan sebagai pelaksana, bukan pengambil keputusan. Bahkan organisasi-organisasi yang memiliki embel pemuda, namun telah diisi oleh orang-orang melebihi definisi pemuda. Dalam keluarga, suara mereka kerap dianggap sekadar fase, bukan perspektif yang layak dipertimbangkan.

Masalahnya bukan pada perbedaan usia. Masalahnya adalah bagaimana perbedaan itu diterjemahkan menjadi hierarki nilai. Yang lebih tua dianggap lebih benar. Yang lebih muda dianggap belum cukup. Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang etika, tetapi tentang struktur kekuasaan yang tidak terlihat.

Dari hal ini, ada pola yang terus berulang: kepercayaan tidak diberikan sebagai titik awal, melainkan sebagai hadiah yang harus diperjuangkan. Namun untuk memperjuangkannya, seseorang harus terlebih dahulu memiliki sesuatu—jabatan, posisi, atau kekuasaan. Tanpa itu, suaranya mudah diabaikan.

Pada akhirnya kita sedang menciptakan lingkaran yang tertutup. Anak muda tidak diberi ruang untuk belajar mengambil tanggung jawab, tetapi pada saat yang sama dituntut untuk siap. Mereka tidak dipercaya karena belum punya pengalaman, tetapi tidak diberi pengalaman karena belum dipercaya.

Dampaknya tidak sederhana. Budaya kritis melemah karena terbiasa tunduk. Inisiatif terhambat karena takut melampaui batas yang tidak tertulis. Regenerasi kepemimpinan berjalan lambat karena hanya sedikit yang diberi ruang untuk berkembang.

Kita sering berbicara tentang meritokrasi, tentang bagaimana kemampuan dan integritas harus menjadi dasar penilaian. Namun meritokrasi tidak akan pernah tumbuh dalam lingkungan yang sejak awal tidak memberi kesempatan yang setara.

Keinginan Kita: Sebuah Penutup

Masyarakat yang egaliter bukanlah masyarakat yang menghapus rasa hormat kepada yang lebih tua. Sebaliknya, ia adalah masyarakat yang mampu menempatkan hormat secara adil: tanpa mengorbankan prinsip kesetaraan.

Hormat tidak berarti bebas melanggar aturan.

Pengalaman tidak berarti kebal dari kritik.

Usia tidak pernah menjadi legitimasi moral.

Kepercayaan seharusnya diberikan sebagai proses, bukan ditahan sebagai hadiah. Anak muda tidak harus menunggu menjadi “cukup dewasa” untuk didengar. Mereka perlu diberi ruang untuk belajar, untuk salah, dan untuk tumbuh sebagai bagian dari masyarakat yang sama.

Kita bisa kembali pada adegan sederhana di awal: antrean yang diserobot tanpa rasa bersalah. Mungkin masalahnya bukan pada siapa yang lebih tua, tetapi pada siapa yang kita anggap lebih berhak.

Seperti yang pernah ditegaskan oleh filsuf Immanuel Kant dalam buku groundwork of the metaphysics of morals: manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat—dan prinsip ini tidak mengenal batas usia.

Jika selama hak itu ditentukan oleh usia, bukan oleh nilai dan perilaku, kita belum benar-benar hidup dalam masyarakat yang melihat semua orang sebagai manusia.