Fenomena api biru atau blue fire di Kawah Ijen kembali menjadi sorotan usai viral video seorang pemandu wisata menyalakan api menggunakan korek di area tambang belerang. Video tersebut memunculkan pertanyaan publik soal kondisi blue fire yang disebut-sebut mulai padam.
Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono, menjelaskan kemunculan blue fire sebenarnya merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan aktivitas pengambilan belerang di dasar kawah Ijen. Namun, api biru itu kerap sengaja dipadamkan oleh petugas solfatara agar tidak membakar habis belerang hasil tambang.
“Blue fire merupakan fenomena alam yang muncul karena adanya aktivitas pengambilan belerang oleh masyarakat. Sebenarnya kemunculan blue fire ini selalu dicegah atau dimatikan agar tidak membakar habis belerang yang dihasilkan,” kata Purwantono saat dihubungi kumparan baru-baru ini.
Menurutnya, petugas di area tambang memiliki kewenangan untuk memadamkan api biru demi menjaga hasil produksi belerang dari proses sublimasi gas yang mengalir melalui pipa besi.
Purwantono menambahkan, pengunjung sebenarnya masih bisa melihat fenomena blue fire apabila beruntung, yakni saat aktivitas penambangan berlangsung dan api belum dipadamkan. Namun, ia mengingatkan wisatawan tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah karena PVMBG merekomendasikan radius aman minimal 500 meter dari dasar kawah.
Ia juga menduga saat ini terjadi penurunan produksi belerang sehingga petugas cenderung lebih sering memadamkan api biru agar produksi tidak semakin berkurang.
“Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, keberadaan blue fire lebih mudah dilihat karena diperkirakan tidak mempengaruhi produksi belerang sehingga tidak dimatikan,” ujarnya.
Terkait video yang viral, Purwantono menyebut hal tersebut merupakan inisiatif pribadi sang guide demi memenuhi ekspektasi wisatawan yang ingin melihat blue fire secara langsung.
Sementara itu, Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi dan Geokimia ITB sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Mirzam Abdurrachman, menjelaskan blue fire di Kawah Ijen sejatinya tetap menyala, termasuk pada siang hari. Namun, nyalanya api tidak terlihat karena kalah terang oleh cahaya matahari.
“Siang ini sebenarnya nyala, cuma tidak kelihatan. Sama seperti api kompor gas berwarna biru yang diletakkan di bawah sinar matahari,” kata Mirzam.
Proses Terjadinya Blue Fire di Kawah Ijen
Ia menjelaskan fenomena blue fire terjadi akibat gas belerang bersuhu tinggi, mencapai sekitar 600 derajat Celsius, keluar dari perut bumi lalu bertemu oksigen hingga terbakar dan menghasilkan nyala api berwarna biru.
Menurut Mirzam, Kawah Ijen menjadi lokasi unik karena memiliki kombinasi magma dan batuan kaya sulfur yang menjadi syarat terbentuknya blue fire alami. Bahkan, fenomena ini disebut menjadi salah satu alasan kawasan Ijen diakui sebagai UNESCO Global Geopark.
Terkait anggapan blue fire mulai padam, Mirzam menilai fenomena tersebut bisa terjadi secara alami ketika tekanan gas menurun. Namun, ia menegaskan api biru juga dapat kembali menyala sendiri ketika tekanan dan suhu gas kembali meningkat.
“Bisa padam secara natural, bisa nyala sendiri juga. Selama sumber magmanya masih ada dan material sulfurnya masih tersedia, fenomena itu tetap bisa terbentuk,” jelasnya.
Ia juga menilai tindakan menyalakan api menggunakan korek membuat fenomena tersebut menjadi tidak alami. Menurutnya, ketika api mulai padam justru bisa menjadi tanda munculnya gas beracun berbahaya.
“Kalau api birunya padam, sebenarnya itu tanda ada gas lain yang keluar. Harusnya orang menjauh, bukan malah dinyalakan lagi,” ujarnya.
Mirzam menambahkan, fenomena blue fire bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian dari mekanisme alam untuk membakar gas beracun agar tidak menyebar bebas ke lingkungan sekitar.
“Cara alam menyembuhkan dirinya sendiri itu dengan membakar gasnya. Ketika apinya padam, artinya ada sesuatu yang berubah dalam sistem gas di sana,” tutup dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·